Rabu, 11 Juli 2012

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Latar belakang dari penulisan makalah ini karena perlu adanya pengetahuan akan kriteria atau ciri-ciri seseorang yang sudah matang di dalam beragama. Agar tidak salah paham jika nantinya terdapat sesuatu yang mungkin disangka menyimpang dari ajaran agama, padahal itu merupakan sesuatu yang benar adanya yang siapa saja mungkin melakukannya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Perkembangan Kepribadian Manusia
2.      Ciri-ciri dan Sikap Keberagamaan

C.     Metode Penulisan
Research library, dan dengan mengutip dari buku-buku, kemudian penyusun simpulkan  dalam bentuk makalah.

D.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui perkembangan kepribadian manusia
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri dan sikap keberagamaan








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Kepribadian Manusia
Manusia mengalami dua macam perkembangan, yaitu perkembangan jasmani dan perkembangan rohani. Perkembangan jasmani ditandai dengan pencapaian kedewasaan, sedangkan perkembangan rohani ditandai dengan pencapaian tingkat abilitas/kemampuan yang disebut dengan kematangan. Kematangan merupakan suatu fenomena penting dalam tingkah laku[1].
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan menurut tiga golongan[2], yaitu:
1.      Menurut golongan Nativisme, perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Mereka mengemukakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan itu dibekali bakat masing-masing baik yang berasal dari orang tua, nenek moyang atau jenisnya. Apabila pembawaan itu baik, maka akan baik pula anak itu kelak. Demikian juga sebaliknya.
2.      Menurut golongan Empirisme, manusia itu lahir dalam keadaan netral, tidak memiliki pembawaan apapun. Semua bayi yang lahir itu selalu dalam keadaan kosong dan perbedaan tingkah laku yang tampak kemudian disebabkan oleh pengaruh lingkungan dalam proses kehidupannya. Mereka tetap mengakui bahwa faktor bawaan sejak lahir setiap orang itu ada, tetapi pembawaan ini akan dapat ditutupi oleh pengaruh lingkungan atau pendidikan dengan rapat sehingga hal-hal bawaan tadi tidak nampak.
3.      Menurut golongan Konvergensi, bahwa baik bakat/keturunan maupun lingkungan itu memainkan peranan penting dalam pembentukan dan perkembangan anak. Bakat saja tanpa adanya pengaruh lingkungan yang cocok dalam perkembangan anak belumlah cukup, demikian pula lingkungan yang baik tetapi tidak sesuai dengan bakat yang dimiliki anak juga tidak akan mendatangkan hasil yang baik.

Anak yang normal biasanya pada usia tujuh tahun sudah siap untuk disekolahkan, karena pada usia tersebut anak itu memiliki tingkat perkembangan yang seimbang antara jasmani dan rohaninya. 
Namun, ada juga anak-anak yang berbeda tingkat perkembangan antara perkembangan jasmani dan perkembangan rohaninya. Terkadang secara jasmani (usianya), anak itu sudah mencapai perkembangan, tetapi secara rohaninya masih belum mencapai perkembangan yang seimbang dengan usianya. Anak-anak itu bisa disebut sedang mengalami keterlambatan perkembangan rohani. Dan sebaliknya, ada juga anak yang perkembangan rohaninya itu lebih dahulu mencapai perkembangan daripada perkembangan rohaninya.
Tanda-tanda kematangan pribadi itu banyak terdapat beberapa pendapat dengan versi yang berbeda pula[3]:
1.    Marie Jahoda berpendapat bahwa tanda-tanda kematangan itu adalah:
a.       Pribadi yang matang adalah individu yang dapat menguasai lingkungannya secara aktif.
b.      Dia memperlihatkan satu totalitas dari segenap kepribadiannya.
c.       Dia sanggup menerima secara tepat dunia lingkungannya dan dirinya sendiri.
d.      Ia mampu berdiri di atas kedua belah kakinya tanpa banyak menuntut kepada orang lain.
2.      Erik Homburger Erikson berpendapat:
a.       Pribadi yang sehat dan matang ialah seorang yang memiliki organisasi usaha yang efektif untuk mencapai tujuan hidupnya.
b.      Ia dapat menerima realitas dunia secara tepat.
c.       Dia memiliki integritas karakter dalam pengertian yang etis, serius, bertanggung jawab, toleran, mampu berdiri sendiri.
d.      Dia memiliki hubungan interpersonal dan intrapersonal yang baik, karena dia tidak egoistis, kurang atau tidak mencurigai orang lain dan mampu mempertahankan diri sendiri.
3.      Abraham Maslow banyak mengajukan beberapa pendapat, namun hanya tiga pendapat yang dikutip, yaitu:
a.       Pada kematangan pribadi itu ada selfactualization (aktualisasi diri), memiliki kemampuan efisiensi dalam menerima relitas. Orientasinya realistis, mempunyai relasi yang baik dengan lingkungannya dan tidak takut pada hal-hal yang belum dialami.
b.      Dia mampu menerima diri sendiri, orang lain dan alam dunia ini tanpa rasa kebencian atau rasa malu.
c.       Dia tidak egoistis, akan tetapi lebih suka memusatkan perhatian dan usahanya untuk memecahkan berbagai problem dengan cara yang efektif, lebih tabah dan ulet terhadap tugasnya.

Pada tingkat perkembangan anak-anak, kedewasaan jasmani belum tentu setara dengan kematangan rohani. Mungkin saja seseorang itu sudah mengalami kedewasaan jasmani dan kematangan rohani, namun adakalanya kedua perkembangan tersebut tidak berjalan sejajar. Secara fisik, seseorang itu bisa dikatakan sudah dewasa, tetapi belum tentu ia sudah matang secara rohaninya.
Keterlambatan pencapaian perkembangan rohani merupakan keterlambatan dalam perkembangan kepribadian. Menurut Dr. Singgih D. Gunarsa, ada dua faktor yang mempengaruhi keterlambatan[4] tersebut, yaitu:
1.      Faktor yang terdapat pada diri anak:
a.       Konstitusi tubuh
b.      Struktur dan keadaan fisik
c.       Koordinasi motorik
d.      Kemampuan mental dan bakat khusus
e.       Emosionalitas
2.      Faktor yang berasal dari lingkungan:
a.       Keluarga
b.      Sekolah


c.       Hereditas[5]
d.      Pengalaman
       Selain itu, ada juga faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, yaitu kebudayaan dari lingkungan sekitar. Kebudayaan ikut berperan serta dalam pembentukan pola tingkah laku anak. Kebudayaan yang menekankan pada norma yang didasarkan kepada nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, loyalitas dan lain sebagainya akan berpengaruh dalam pembentukan sikap dan tingkah laku anak. Demikian juga dengan kematangan beragama.
       Keluargalah yang paling berperan di dalam pembentukan kepribadian anak. Mulai dari dalam kandungan hingga anak menjadi dewasa. Pembentukan kepribadian itu harus dilakukan secara terus menerus dan diadakan pemeliharaan sehingga menjadi matang dan tidak mungkin berubah lagi. Misalnya, anak sewaktu masih kecil tergolong rajin belajar dan membantu orang tua di rumah, tetapi setelah remaja berubah menjadi pemalas. Hal ini mungkin karena kurangnya pemeliharaan, pengawasan, tidak pernah diberi imbalan atau dengan kata lain motivasi belajar anak dibiarkan rusak. Seharusnya, semua sifat atau kebiasaan yang baik harus dipelihara dan dipupuk terus sampai dewasa agar tidak berubah lagi[6].
       Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai  luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
B.       Ciri-ciri dan Sikap Keberagamaan
       Secara garis besar, sikap dan perilaku keagamaan itu menurut William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience, dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:
1.        Tipe orang yang sakit jiwa (The Sick Soul)
          Menurut William James, sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada orang yang pernah mengalami latar kehidupan keagamaan yang terganggu. Artinya seseorang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang sejak kecil hingga dewasa. Namun dikarenakan oleh adanya penderitaan batin yang mungkin disebabkan oleh musibah, konflik batin atau oleh sebab-sebab lainnya.
          Faktor-faktor yang mempengaruhi tipe orang sakit jiwa ini antara lain:
a.       Faktor intern:
1)      Temperamen
Tingkah laku yang didasarkan kondisi temperamen memegang peranan penting dalam sikap keberagamaan seseorang. Seseorang yang berbeda temperamennya akan berbeda pula sikap dan pandangannya terhadap agama.
2)      Gangguan jiwa
Orang yang mengalami gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya. Tindak tanduk keagamaan dan pengalaman keagamaan yang ditunjukkannya tergantung dari gejala gangguan jiwa yang mereka alami.
3)      Konflik dan keraguan
Keyakinan agama yang dianut berdasarkan pemilihan yang matang sesudah terjadinya konflik kejiwaan akan lebih dihargai dan dimuliakan. Konflik dan keraguan ini dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama seperti taat, fanatik, dan lain sebagainya.
4)      Jauh dari Tuhan
Orang yang dalam kehidupannya jauh dari ajaran agama biasanya akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan hidup di saat menghadapi cobaan. Perasaan inilah yang mendorong seseorang itu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan serta berupaya mengabdikan diri dengan bersungguh-sungguh.
b.      Faktor ekstern:
1)      Musibah
Musibah yang serius dapat mengguncangkan jiwa seseorang. Keguncangan jiwa ini dapat menimbulkan kesadaran seseorang dengan berbagai macam pemahaman. Bagi seseorang yang semasa sehatnya kurang memiliki pengalaman dan kesadaran agama yang cukup umumnya menafsirkan musibah itu adalah sebagai peringatan dari Tuhan. Dengan adanya pemahaman tentang musibah yang menjadi peringatan tersebut, membuat seseorang itu kembali kepada agamanya. Semakin tinggi musibah yang ia alami, maka semakin meningkat pula ketaatannya kepada agama.
2)      Kejahatan
Seseorang yang dalam hidupnya selalu berada di dalam dunia kejahatan, baik itu ia sebagai otak pelaku maupun hanya sebagai pendukung kejahatan tersebut, umumnya akan mengalami keguncangan batin, dan ada timbul perasaan berdosa. Perasaan seperti itu biasanya terus menghantui seseorang itu hingga menyebabkan hidupnya tidak pernah mengalami ketenangan dan ketenteraman. Perasaan-perasaan tersebut biasanya mendorong seseorang untuk mencari penyaluran yang menurut penilaiannya dapat memberi ketenteraman batin. Biasanya mereka ini akan kembali kepada agama. Kesadaran ini sering mendorong seseorang untuk bertobat. Sebagai penebus terhadap dosa-dosa yang telah diperbuatnya, tak jarang seseorang itu menjadi penganut agama yang taat dan fanatik.
2.        Tipe orang yang sehat jiwa (Healthy Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalam bukunya Religion Psychology[7]:
a.       Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis. Menurutnya pahala yang didapat itu merupakan hasil jerih payah yang diberikan Tuhan. Dan musibah yang dialami merupakan sebuah kesalahan atau kekhilafan yang ia lakukan, bukan merupakan peringatan dari Tuhan.
b.      Ekstrovet dan tidak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jiwa ini menyebabkan seseorang itu mudah melupakan kesan-kesan buruk dan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Seseorang itu lebih senang melaksanakan ajaran agamanya.
c.       Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadian yang ekstrovet, maka seseorang itu biasanya menyenangi teologi yang luwes dan tidak kaku, menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas, menekankan ajaran cinta kasih, dan lain-lain.
          Walaupun keberagamaan orang dewasa ditandai dengan pendirian yang teguh, namun dalam kenyataan di kehidupan sehari-hari masih banyak ditemui orang dewasa yang berubah keyakinan dan kepercayaan. Perubahan itu bisa saja mengarah pada acuh tak acuh pada ajaran agama atau beralih kepada ajaran agama yang lain. Agama juga sebagai pendorong perkembangan yang utama[8].     
       Pada diri manusia itu senantiasa terjadi perubahan diri. Yaitu ada perjuangan melawan diri sendiri dan melawan egosentrisme. Perubahan diri itu juga menagndung tendens untuk melepaskan diri dari pola-pola lama yang dianggap tidak sesuai lagi, dan mengarahkan usaha penyesuaian diri terhadap lingkungan baru dan orang lain dengan lebih sempurana. Sehingga dengan demikian pada perubahan diri ini ada kecenderungan yang sifatnya altruistis, sebagai lawan daripada egoisme[9].
       Perubahan diri ini juga selalu mengandung unsur perkembangan diri. Perubahan diri dan pengembangan diri itu menjadi unsur-unsur utama bagi eksistensi hidup. Pada proses ini memang ada usaha pengarahan pada diri sendiri. Hanya saja pengarahan ini jangan terlalu mementingkan diri sendiri (Icth-Suchtig). Icth-Suchtig ini adalah pengarahan pada diri sendiri yang terlalu ekstrim, dengan tidak cukup memperhatikan kepentingan-kepentingan orang lain. Maka untuk memenuhi kepentingan sendiri, orang sering mengorbankan kepentingan orrang lain.
       Maka agama itu mempunyai tendens untuk mengeluarkan manusia dari Icth-Suchtig atau rasa egoisme tadi. Lagi pula, agama itu membukakan hati manusia kepada pengertian-pengertian yang absolut dan altruistis (cinta pada sesame manusia). Agama itu juga mempunyai nilai-nilai yang absolut dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Oleh karena itu setiap pengarahan diri pada nilai-nilai keagamaan pasti amat besar artinya bagi perubahan dan pembentukan karakter.
       Dalam usaha untuk mengembangkan dirinya, manusia itu menyadari kekurangan-kekurangan dan keterbatasan kemampuannya. Ia belajar mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk yang serba kurang, banyak melakukan kesalahn serta dosa. Karena kesadaran dan ketulusannya itulah maka timbul rasa penyerahan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Cinta kasih dan pasrah diri pada Ilahi itu merupakan usaha pokok dari setiap manusia menuju pada kesempurnaan. Nilai-nilai spiritual dan renungan-renungan tentang Hakekat Abadi atau Ilahi itu memberikan kekuatan dan stabilisasi pada manusia; memberikan energi dan daya tahan tubuh.
       Di samping itu, manusia juga memiliki batin yang banyak fungsinya. Batin atau hati nurani manusia di dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya adalah berfungsi sebagai hakim yang adil, apabila di dalam kehidupan manusia itu mengalami konflik, pertentangan atau keragu-raguan di dalam akan bertindak tentang sesuatu. Batin bertindak sebagai suatu pengontrol yang kritis, sehingga manusia sebenarnya sering diperingatkan untuk selalu bertindak menurut batas-batas tertentu yang tidak boleh dilanggarnya[10].
       Batin inilah yang mendorong manusia untuk segera meminta maaf apabila bertindak tidak benar, sambil menjanjikan pada dirinya sendiri untuk tidak akan berbuat semacam itu lagi kepada siapapun, sekalipun hanya disaksikan oleh dia sendiri, dan akan menyebabkan timbulnya keberanian. Terlalu sering melakukan perbuatan yang bertentangan dengan suara hati, di dalam kehidupan yang sadar, hanya akan menyebabkan pecahnya pribadi seseorang sehingga di dalamnya akan selalu dirasakannya konflik-konflik jiwa yang tiada berkesudahan. Untuk dapat menghilangkannya hanya dengan menguatkan fungsi batin itu sebagai alat pengontrol yang harus dipatuhi.
       Di samping sebagai alat pengontrol, batin berfungsi pula sebagai alat pembimbing untuk membawa pribadi dari keadaan yang biasa ke arah pribadi yang akan mudah sekali dikenal oleh masyarakat. Misalnya pribadi yang bertanggungjawab, berdisiplin, konsekuen, adil, dan sebagainya. Dikenalnya seseorang memiliki pribadi yang semacam itu akan berarti tumbuhnya wibawa orang itu sendiri. Wibawa inilah yang diperlukan di dalam setiap kehidupan.




BAB III
PENUTUP
Simpulan
       Manusia mengalami dua macam perkembangan, yaitu perkembangan jasmani dan perkembangan rohani. Perkembangan jasmani ditandai dengan pencapaian kedewasaan, sedangkan perkembangan rohani ditandai dengan pencapaian tingkat abilitas/kemampuan yang disebut dengan kematangan.
       Fator-faktor yang mempengaruhi perkembangan itu ada tiga, menurut tiga golongan, yakni golongan Nativisme yang berpendapat bahwa anak itu dipengaruhi oleh bakat yang dibawanya sejak lahir, golonngan Empirisme berpendapat bahwa anak itu dipengaruhi oleh lingkungan, sedangkan menurut golongan Konvergensi yang mengetengahi kedua golongan sebelumnya, bahwa anak itu di samping membawa bakat dari lahir, juga dipengaruhi oleh lingkungan pula.
       Secara garis besar, sikap dan perilaku keagamaan itu menurut William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience, dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:
1.        Tipe orang yang sakit jiwa (The Sick Soul)
                        Menurut William James, sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada orang yang pernah mengalami latar kehidupan keagamaan yang terganggu. Artinya seseorang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang sejak kecil hingga dewasa. Namun dikarenakan oleh adanya penderitaan batin yang mungkin disebabkan oleh musibah, konflik batin atau oleh sebab-sebab lainnya.
2.        Tipe orang yang sehat jiwa (Healthy Minded-Ness)
            Ciri dan sifat agama pada orang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalam bukunya Religion Psychology, yaitu: optimis dan gembira, ekstrovet dan tidak mendalam, dan menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh. Psikologi Perkembangan, Jakarta, Rineka Cipta, 2005
Jalaluddin. Psikologi Agama, Jakarta, RajaGrafindo Persada, 1997
Kartono, Kartini. Teori Kepribadian, Bandung, Alumni, 1979
Kartono, Kartini. Teori Kapribadian, Bandung, Mandar Maju, 2005
Mappiare, Andi. Psikologi, Surabaya, Usaha Nasional, 1968
Mubin, dan Ani Cahyadi. Psikologi Perkembangan, Ciputat, Quantum Teaching, 2006
Sabri, M. Alisuf. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya,
       1997
Sujanto, Agus, dkk. Psikologi Kepribadian, Jakarta, Bumi Aksara, 2006
W. Crapps, Robert. Dialog Psikologi dan Agama, Yogyakarta, Kanisius, 2003


                                                  






[1] Andi Mappiare, Psikologi, (Surabaya: Usaha Nasional, 1968),h. 163
[2] Mubin dan Ani Cahyadi, Psikologi Perkembangan, (Ciputat: Quantum Teaching, 2006), h. 33-38
[3] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, (Bandung: Alumni, 1979), h. 126-127
[4] Jalaluddin, Psilogi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1997), h. 108
[5] M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997), h. 103
[6] Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 168
[7] Jalaluddin, “Op.,cit” h. 115
[8] Robert W. Crapps, Dialog Psikologi dan Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), h. 86
[9] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, (Bandung: Mandar Maju, 2005), h. 142
[10] Agus Sujanto, dkk, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 12

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar