Minggu, 08 Juli 2012

pembentukan kata dalam bahasa indonesia


Pembentukan Kata-kata Bahasa Indonesia

Ada banyak ragam pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbeda. Untuk memahami cara pembentukan kata-kata tersebut kita sebaiknya mengetahui lebih dahulu beberapa konsep dasar dan istilah seperti yang dijelaskan di bawah ini. Untuk mempersingkat dan memperjelas  pembahasannya, kami menggunakan kata-kata yang tidak bersifat gramatikal atau teknis untuk menjelaskan kata-kata tersebut sebanyak mungkin. Kami tidak membahas tentang infiks (sisipan yang jarang digunakan), reduplikasi dan kata-kata majemuk yang berafiks. 

Definisi Istilah
kata dasar (akar kata) = kata yang paling sederhana yang belum memiliki imbuhan, juga dapat dikelompokkan sebagai bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks), tetapi perbedaan kedua bentuk ini tidak dibahas di sini.

afiks (imbuhan) = satuan terikat (seperangkat huruf tertentu) yang apabila ditambahkan pada kata dasar akan mengubah makna dan membentuk kata baru. Afiks tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada satuan lain seperti kata dasar. Istilah afiks termasuk prefiks, sufiks dan konfiks.

prefiks (awalan) = afiks (imbuhan) yang melekat di depan kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.

sufiks (akhiran) = afiks (imbuhan) yang melekat di belakang kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.

konfiks (sirkumfiks / simulfiks) = secara simultan (bersamaan), satu afiks melekat di depan kata dasar dan satu afiks melekat di belakang kata dasar yang bersama-sama mendukung satu fungsi.

kata turunan (kata jadian) = kata baru yang diturunkan dari kata dasar yang mendapat imbuhan.

keluarga kata dasar = kelompok kata turunan yang semuanya berasal dari satu kata dasar dan memiliki afiks yang berbeda.


Afiks Bahasa Indonesia yang Umum
prefiks:  ber-, di-, ke-, me-, meng-, mem-, meny-, pe-, pem-, peng-, peny-, per-, se-, ter-
sufiks:  -an, -kan, -i, -pun, -lah, -kah, -nya
konfiks:  ke - an, ber - an, pe - an, peng - an, peny - an, pem - an, per - an, se - nya



Penggunaan Afiks
Mempelajari proses pembentukan kata-kata dan metode pembubuhan afiks merupakan kunci untuk memahami makna kata-kata turunan dan belajar membaca teks Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata yang terdapat dalam surat kabar dan majalah Indonesia berafiks. Jika seseorang mengerti makna kata dasar, ia dapat mengerti makna sebagian besar kata yang berasal (diturunkan) dari kata dasar itu dengan menggunakan kaidah umum untuk masing-masing jenis afiks.
      Jika kita dapat menerima sedikit kekeliruan dalam penggunaan afiks, kita dapat menyederhanakan pembahasan tentang afiks (imbuhan). Dalam mengklasifikasikan jenis kata (nomina, verba, adjektiva, dan lain-lain) kami menggunakan kaidah pengklasifikasian kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi Kedua - 1991) yang disusun dan diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia. Penjelasan di bawah adalah untuk menguraikan hasil penambahan afiks (imbuhan) kepada kata dasar, bukan untuk menjelaskan bilamana afiks digunakan. Dalam kamus ini tidak diuraikan tentang asal kata dasar (etimologi). Perlu diperhatikan bahwa penjelasan di bawah ini lebih berhubungan dengan perbuatan (aksi) dalam suatu kalimat - siapa yang melakukan aksi itu, hasil perbuatan, arah perbuatan atau tindakan dan apakah tindakan itu merupakan fokus utama dalam kalimat atau bukan.

Frekuensi Penggunaan Afiks
                Dalam kamus ini terdapat 38.308 entri (tidak termasuk singkatan, akronim dan entri kata majemuk) dimana 22.022 berafiks dan 16.286 tidak berafiks. Menurut persentase, 57% berafiks dan 43% tidak. Dengan kata lain, untuk tiap 9 entri dalam kamus ini, 5 kata berafiks dan 4 kata lainnya tidak.
                Pada tahun 1998, secara tidak formal, kami menganalisis 10.000 kata Bahasa Indonesia dari terbitan yang umum di Indonesia. Dari 10.000 kata tersebut, terdapat 2.887 atau kira-kira 29% kata berafiks dan 7.113 atau 71% tidak. Dengan kata lain, untuk tiap 100 kata di surat kabar atau majalah, Anda mungkin dapat menemukan 29 kata yang berafiks dan 71 kata tidak berafiks. Tingkat penggunaan masing-masing afiks diuraikan di bawah ini.

Aplikasi Afiks

ber- : menambah prefiks ini membentuk verba (kata kerja) yang sering kali mengandung arti (makna) mempunyai atau memiliki sesuatu. Juga dapat menunjukkan keadaan atau kondisi atribut tertentu. Penggunaan prefiks ini lebih aktif berarti mempergunakan atau mengerjakan sesuatu. Fungsi utama prefiks "ber-" adalah untuk menunjukkan bahwa subyek kalimat merupakan orang atau sesuatu yang mengalami perbuatan dalam kalimat itu. Banyak verba dengan afiks "ber-" mempunyai kata yang sama dengan bentuk adjektiva dalam Bahasa Inggris. Sekitar satu dari tiap 44 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. 

me-, meng-, menge-, meny, mem-: menambah salah satu dari prefiks ini membentuk verba yang sering kali menunjukkan tindakan aktif di mana fokus utama dalam kalimat adalah pelaku, bukan tindakan atau obyek tindakan itu. Jenis prefiks ini sering kali mempunyai arti mengerjakan, menghasilkan, melakukan atau menjadi sesuatu. Prefiks ini yang paling umum digunakan dan sekitar satu dari tiap 13 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki salah satu dari prefiks ini.

di- : Prefiks ini mempunyai pertalian yang sangat erat dengan prefiks "me-." Prefiks "me-" menunjukkan tindakan aktif sedangkan prefiks "di-" menunjukkan tindakan pasif, di mana tindakan atau obyek tindakan adalah fokus utama dalam kalimat itu, dan bukan pelaku. Sekitar satu dari tiap 40 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. 

pe- : Prefiks ini membentuk nomina yang menunjukkan orang atau agen yang melakukan perbuatan dalam kalimat. Kata dengan prefiks ini juga bisa memiliki makna alat yang dipakai untuk melakukan perbuatan yang tersebut pada kata dasarnya. Apabila kata dasarnya berupa kata sifat, maka kata yang dibentuk dengan prefiks ini memiliki sifat atau karakteristik kata dasarnya. Sekitar satu dari tiap 110 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. 

ter- : Sekitar satu dari tiap 54 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini. Penambahan afiks ini menimbulkan dua kemungkinan.
(1) Jika menambahkan ke kata dasar adjektif, biasanya menghasilkan adjektif yang menyatakan tingkat atau kondisi paling tinggi (ekstrim) atau superlatif. (misalnya: paling besar, paling tinggi, paling baru, paling murah)
(2) Jika menambahkan ke kata dasar yang bukan adjektif, umumnya menghasilkan verba yang menyatakan aspek perfektif, yaitu suatu perbuatan yang telah selesai dikerjakan. Afiks ini juga bisa menunjukkan perbuatan spontanitas, yaitu suatu perbuatan yang terjadi secara tiba-tiba atau tidak disengaja (misalnya aksi oleh pelaku yang tidak disebutkan, pelaku tidak mendapat perhatian atau tindakan natural). Fokus dalam kalimat adalah kondisi resultan tindakan itu dan tidak memfokuskan pada pelaku perbuatan atau bagaimana kondisi resultan itu tercapai.

se-: menambah prefiks ini dapat menghasilkan beberapa jenis kata. Prefiks ini sering dianggap sebagai pengganti “satu” dalam situasi tertentu. Sekitar satu dari tiap 42 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki prefiks ini.  Penggunaan paling umum dari prefiks ini adalah sebagai berikut:
1. untuk menyatakan satu benda, satuan atau kesatuan (seperti “a” atau “the” dalam Bahasa Inggris)
2. untuk menyatakan seluruh atau segenap
3. untuk menyatakan keseragaman, kesamaan atau kemiripan
4. untuk menyatakan tindakan dalam waktu yang sama atau menyatakan sesuatu yang berhubungan dengan waktu

-an : menambah sufiks ini biasanya menghasilkan kata benda yang menunjukkan hasil suatu perbuatan. Sufiks ini pun dapat menunjukkan tempat, alat, instrumen, pesawat, dan sebagainya. Sekitar satu dari tiap 34 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini. 

-i : menambah sufiks ini akan menghasilkan verba yang menunjukkan perulangan, pemberian sesuatu atau menyebabkan sesuatu. Sufiks ini sering digunakan untuk memindahkan perbuatan kepada suatu tempat atau obyek tak langsung dalam kalimat yang mana tetap dan tidak mendapat pengaruh dari perbuatan tersebut    . Sufiks ini pun menunjukkan di mana dan kepada siapa tindakan itu ditujukan. Sekitar satu dari tiap 70 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini. 

-kan: menambah sufiks ini akan menghasilkan kata kerja yang menunjukkan penyebab, proses pembuatan atau timbulnya suatu kejadian. Fungsi utamanya yaitu untuk memindahkan perbuatan verba ke bagian lain dalam kalimat. Sekitar satu dari tiap 20 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini. 

-kah :  menambah sufiks ini menunjukkan bahwa sebuah ucapan merupakan pertanyaan dan sufiks ini ditambahkan kepada kata yang merupakan fokus pertanyaan dalam kalimat. Sufiks ini jarang digunakan.

-lah : sufiks ini memiliki penggunaan yang berbeda dan membingungkan, tetapi secara singkat dapat dikatakan bahwa sufiks ini sering digunakan untuk memperhalus perintah, untuk menunjukkan kesopanan atau menekankan ekspresi. Hanya sekitar satu dari tiap 400 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki sufiks ini. 

ke-an : Konfiks ini yang paling umum digunakan dan sekitar satu dari tiap 65 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki konfiks ini. Konfiks ini adalah untuk:
  1. membentuk nomina yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan dalam pengertian umum yang menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan kata dasar
  2. membentuk nomina yang menunjuk kepada tempat atau asal
  3. membentuk adjektif yang menyatakan keadaan berlebihan
  4. membentuk verba yang menyatakan kejadian yang kebetulan
.
pe-an, peng-an, peny-an, pem-an : penggunaan salah satu dari keempat konfiks ini biasanya menghasilkan suatu nomina yang menunjukkan proses berlangsungnya perbuatan yang ditunjuk oleh verba dalam kalimat. Sekitar satu dari tiap 75 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki konfiks ini. 

per-an : menambah konfiks ini akan menghasilkan sebuah nomina yang menunjukkan hasil suatu perbuatan (bukan prosesnya) dan dapat juga menunjukkan tempat. Artinya sering menunjuk kepada suatu keadaan yang ditunjuk oleh kata dasar atau hasil perbuatan verba dalam kalimat. Keadaan ini mirip dengan yang diperoleh dengan menggunakan konfiks “ke-an”, tetapi biasanya kurang umum dan lebih konkrit atau spesifik. Sekitar satu dari tiap 108 kata yang tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki konfiks ini.

se - nya : Konfiks ini seringkali muncul bersama-sama dengan kata dasar tunggal atau kata dasar ulangan untuk membentuk adverbia yang menunjukkan suatu keadaan tertinggi yang dapat dicapai oleh perbuatan kata kerja (misalnya: setinggi-tingginya = setinggi mungkin).

-nya : Ada penggunaan “-nya” sebagai sufiks murni yang mengubah arti kata dasarnya, tetapi hal ini merupakan konsep yang agak rumit dan kurang umum dan tidak dibahas di sini.  contoh: biasanya = usually; rupanya = apparently

-nya, -ku, -mu: satuan-satuan ini bukan merupakan afiks murni dan semuanya tidak dimasukkan sebagai entri dalam kamus ini. Pada umumnya satuan-satuan ini dianggap sebagai kata ganti yang menyatakan kepemilikan yang digabungkan dengan kata dasar yang mana tidak mengubah arti kata dasar. Misalnya, kata “bukuku” = buku saya, “bukumu” = buku Anda, “bukunya” = buku dia atau buku mereka. Selain sebagai kata ganti yang menyatakan kepemilikan, satuan “-nya” pun dapat memiliki fungsi untuk menunjukkan sesuatu. Misalnya, “bukunya” berarti “buku itu”, bila “-nya” berfungsi sebagai penunjuk.
Penggunaan “-nya” baik sebagai kata ganti maupun penunjuk (bukan sebagai sufiks murni) adalah sangat umum dan sekitar satu dari tiap 14 kata tertulis dalam Bahasa Indonesia memiliki satuan ini. Penggunaan “-ku” dan “-mu” bervariasi sesuai dengan jenis tulisan. Dua jenis kata ganti ini sangat umum digunakan dalam komik, cerpen dan tulisan tidak resmi lainnya, dan jarang digunakan dalam tulisan yang lebih formal seperti surat kabar dan majalah berita

Pedoman ejaan dan penulisan kata

Penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.
1.     Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.
2.     Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)
1.     Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar.        Contoh: bergeletar, dikelola [1].
2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi
3.  Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.
4.   Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.
5.    Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.
3.   Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).
4.     Gabungan kata atau kata majemuk
1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.
3.  Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.
5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.
6.  Kata depan atau preposisi (di [1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
7.   Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.
8.     Partikel
1.     Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.
2.  Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.
3. Partikel per- yang berarti "mulai", "demi", dan "tiap" ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.

Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:
1.     Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.
1.     Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-
2.     Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya
2.     Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.
1.     ber-an dan ber-i
2.     di-kan dan di-i
3.     diper-kan dan diper-i
4.     ke-an dan ke-i
5.     me-kan dan me-i
6.     memper-kan dan memper-i
7.     pe-an dan pe-i
8.     per-an dan per-i
9.     se-nya
10.                        ter-kan dan ter-i
3.     Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).
1.     Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.
2.     Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:
1.     tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.
2.     me-mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.
3.     me-men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
4.     me-meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
5.     me-menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
6.     me-meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.
Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:
1.     Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.
2.     Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.
3.     Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:
1.     ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)
2.     ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)

Konsensus penggunaan kata

Tiongkok dan tionghoa

Cina adalah bentuk dan penggunaan baku menurut KBBI. Ada himbauan untuk menghindari kata ini atas pertimbangan kesensitifan penafsiran. Sebagai alternatifnya diusulkan menggunakan kata "China". Ini sebuah argumen yang tidak bisa didiskripsikan dan dijelaskan secara ilmiah bahasa, apalagi bunyi ujaran "China" - "Cina" adalah hampir sama (China dibaca dengan ejaan Inggris). Padanan untuk kata Cina yaitu Tiongkok (negara), Tionghoa (bahasa dan orang).

Mayat dan mati

  • mati: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata wafat, meninggal, gugur, atau tewas (tergantung konteks).
  • mayat: hindari penggunaannya dalam penulisan biografi. Gunakan kata jasad atau jenazah.

Pranala ke situs luar

Sebisa mungkin hindari penggunaan kalimat seperti "Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs ini." pada artikel yang belum lengkap. Sebaiknya pranala ke situs tersebut dimasukkan ke bagian Pranala luar dan menambahkan Templat:Stub dengan mengetik:
{{stub}}
atau
{{rintisan}}
di bagian akhir artikel.

Penggunaan "di mana" sebagai penghubung dua klausa

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia TIDAK mengenal bentuk "di mana" (padanan dalam bahasa Inggris adalah "who", "whom", "which", atau "where") atau variasinya ("dalam mana", dengan mana", dan sebagainya). Penggunaan "di mana" sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata "yang" sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK "DI MANA", apalagi "dimana", termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.
Contoh-contoh:
(1) Dari artikel
Kantin: ... kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan ... .
·         Usul perbaikan: ... kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan ... .
(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Tegangan permukaan = F / L dimana :
F = gaya (newton)
L = panjang m).[sic]
·         Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.
Di sini tampak bahwa "apabila" menggantikan posisi "di mana" (ditulis di kalimat asli sebagai "dimana").
(3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice ... .
·         Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja ... .
Contoh-contoh lain silakan ditambahkan.

Kata penghubung "sedangkan"

Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata "sedangkan". "Sedangkan" adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti "dan", "atau", serta "sementara". Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. "Sedangkan" digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata "sementara itu".
Contoh: Dari harian Jawa Pos:
"Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849."
Usulan perbaikan 1:
"Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849."
Usulan perbaikan 2:
"Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten ada 12.849."

Gabungan kata yang ditulis serangkai

1.     acapkali
2.     adakalanya
3.     akhirulkalam
4.     alhamdulillah
5.     astagfirullah
6.     bagaimana
7.     barangkali
8.     bilamana
9.     bismillah
10.                        beasiswa
11.                        belasungkawa
12.                        bumiputra
13.                        daripada
14.                        darmabakti
15.                        darmasiswa
16.                        dukacita
17.                        halalbihalal
18.                        hulubalang
19.                        kacamata
20.                        kasatmata
21.                        kepada
22.                        keratabasa
23.                        kilometer
24.                        manakala
25.                        manasuka
26.                        mangkubumi
27.                        matahari
28.                        olahraga
29.                        padahal
30.                        paramasastra
31.                        peribahasa
32.                        puspawarna
33.                        radioaktif
34.                        sastramarga
35.                        saputangan
36.                        saripati
37.                        sebagaimana
38.                        sediakala
39.                        segitiga
40.                        sekalipun
41.                        silaturahmi
42.                        sukacita
43.                        sukarela
44.                        sukaria
45.                        syahbandar
46.                        titimangsa
47.                        wasalam

Kata yang sering salah dieja

Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.
1.     aktif, aktip
2.     aktivitas, aktifitas
3.     alquran, al-Qur'an, Al-Qur'an, al Qur'an, Al Qur'an (maupun tanpa ['])
4.     analisis, analisa
5.     Anda, anda
6.     apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)
7.     asas, azas
8.     atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)
9.     bus, bis
10.                        besok, esok
11.                        diagnosis, diagnosa
12.                        Ekstrakurikuler, ekstrakulikuler
13.                        ekstrem, ekstrim
14.                        embus, hembus
15.                        Februari, Pebruari
16.                        frekuensi, frekwensi
17.                        foto, photo
18.                        gladi, geladi
19.                        hierarki, hirarki
20.                        hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)
21.                        ibu kota, ibukota
22.                        ijazah, ijasah
23.                        imbau, himbau
24.                        indera, indra
25.                        indragiri, inderagiri
26.                        istri, isteri
27.                        izin, ijin
28.                        jadwal, jadual
29.                        jenderal, jendral
30.                        Jumat, Jum'at
31.                        kacamata, kaca mata
32.                        kanker, kangker
33.                        karier, karir
34.                        Katolik, Katholik
35.                        kendaraan, kenderaan
36.                        komoditi, komoditas [2]
37.                        komplet, komplit
38.                        konkret, konkrit, kongkrit
39.                        kosa kata, kosakata
40.                        kualitas, kwalitas, kwalitet [2]
41.                        kuantitas, kwantitas [2]
42.                        kuitansi, kwitansi
43.                        kuno, kuna [3]
44.                        lokakarya, loka karya
45.                        maaf, ma'af
46.                        makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)
47.                        mazhab, mahzab
48.                        metode, metoda
49.                        mungkir, pungkir (Ingat!)
50.                        nakhoda, nahkoda, nakoda
51.                        napas, nafas
52.                        narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)
53.                        nasihat, nasehat
54.                        negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)
55.                        November, Nopember
56.                        objek, obyek
57.                        objektif, obyektif/p
58.                        olahraga, olah raga
59.                        orang tua, orangtua
60.                        paham, faham
61.                        persen, prosen
62.                        pelepasan, penglepasan
63.                        penglihatan, pelihatan; pengecualian
64.                        permukiman, pemukiman
65.                        perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK
66.                        pikir, fikir
67.                        Prancis, Perancis [4]
68.                        praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)
69.                        provinsi, propinsi
70.                        putra, putera
71.                        putri, puteri
72.                        realitas, realita
73.                        risiko, resiko
74.                        saksama, seksama (Ingat!)
75.                        samudra, samudera
76.                        sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)
77.                        saraf, syaraf
78.                        sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)
79.                        sekretaris, sekertaris
80.                        sekuriti, sekuritas [2]
81.                        segitiga, segi tiga
82.                        selebritas, selebriti
83.                        sepak bola, sepakbola
84.                        silakan, silahkan (Ingat!)
85.                        sintesis, sintesa
86.                        sistem, sistim
87.                        surga, sorga, syurga
88.                        subjek, subyek
89.                        subjektif, subyektif/p
90.                        Sumatra, Sumatera
91.                        standar, standard
92.                        standardisasi, standarisasi [5]
93.                        tanda tangan, tandatangan
94.                        tahta, takhta
95.                        teknik, tehnik
96.                        telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon
97.                        teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)
98.                        terampil, trampil
99.                        ubah (=mengganti), rubah (=serigala) -- sepertinya kedua-duanya berlaku
100.                   utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)
101.                   walikota, wali kota
102.                   Yogyakarta, Jogjakarta
103.                   zaman, jaman

Pembentukan kata

Pengetahuan mengenai proses pembentukan kata atau lema sangat berguna untuk membentuk istilah baru bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari bahasa asing, atau paling tidak untuk memahami bagaimana suatu padanan kata bahasa Indonesia dibentuk dari bahasa asalnya.
Proses pembuatan kata bentukan yang memiliki makna baru dari kata dasar dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
1.     afiksasi atau pengimbuhan – misalnya berdamai,
2.     reduplikasi atau pengulangan – misalnya abu-abu, serta
3.     komposisi atau pemajemukan, misalnya garam dapur, roda gila.
Pembentukan kata dapat juga dilakukan dengan kombinasi ketiga cara tersebut.
Afiksasi
Afiks atau imbuhan adalah morfem atau bentuk terikat yang digunakan untuk membentuk neologisme. Biasa dikelompokkan menurut posisi penempatannya terhadap kata dasar, jenis imbuhan yang paling sering digunakan dalam bahasa Indonesia adalah:
1.     prefiks (awalan, misalnya me-, ber-, nara-),
2.     sufiks (akhiran, misalnya -an, -wan),
3.     infiks (sisipan di tengah, misalnya -em-, -el-), dan
4.     konfiks (gabungan dua afiks tunggal, misalnya ke- -an, pe- -an).
Contohnya istilah nirkabel sebagai padanan wireless dari bahasa Inggris yang terdiri dari kata dasar wire (kabel) dan sufiks -less. Sufiks -less dalam bahasa Inggris bisa berarti tidak, tanpa, atau kurang. Afiks yang memiliki makna serupa dalam bahasa Indonesia sebenarnya ada beberapa, seperti awa-, dur-, nir-, dan tuna-. Kenapa akhirnya dipilih nir-, mungkin karena lebih enak terdengarnya dan bukan berarti bahwa semua sufiks -less pasti dialihbahasakan menjadi nir-.
Reduplikasi
Reduplikasi adalah fenomena linguistik berupa pengulangan suatu kata atau unsur kata (fonem, morfem) membentuk lema baru yang dapat mengubah makna dasar. Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi sering dilakukan dengan menambahkan tanda hubung (-).
Komposisi
Banyak sekali lema yang dibentuk melalui proses pemajemukan dalam bahasa Indonesia, contohnya rumah sakit, terima kasih, dll.
Yang menarik adalah, meskipun EYD telah mengatur dengan cukup jelas tata cara penulisan gabungan kata, masih banyak ditemukan kesalahan yang dilakukan pengguna bahasa Indonesia dalam menuliskan kata majemuk. Prinsip ringkas penulisan kata gabungan adalah:
1.     Ditulis terpisah antar unsurnya. Contoh darah daging.
2.     Boleh diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian dan menghindari salah pengertian. Contoh orang-tua muda.
3.     Ditulis terpisah jika hanya diberi awalan atau akhiran. Contoh: berterima kasih.
4.     Ditulis serangkai jika sekaligus diberi awalan dan akhiran. Contoh: menyebarluaskan.
5.     Ditulis serangkai untuk beberapa lema yang telah ditentukan. Contohnya manakala, kilometer. Daftar lengkap bisa dilihat di pedoman EYD.

PEMBENTUKAN KATA DENGAN UNSUR LAIN (I)


Dalam perkembangan bahasa Indonesia dapat dicatat dua hal yang terkait masalah pembentukan kata. Kedua hal tersebut ialah:
Pertama, digunakannya sejumlah kata asli Indonesia sebagai sarana pembentukan kata baru. Misalnya kata-kata: alih, aneka, antar, anti, baku, maha, salah, serba, tata.
Kedua, digunakannya sejumlah imbuhan dari bahasa asing dalam pembentukan kata baru. Misalnya kata-kata: eks, ekstra, intra, ko, kontra, non, panca, pasca, pro, pra, purna,super, semi, man, wan, wati.

1.alih
Pembentukan kata baru dengan kata alih memberi makna “memindahkan (transfer)” atau “mengubah”. Penulisannya dipisahkan dari kata berikutnya.
alih bahasa = penerjemahan
      alih generasi = regenerasi
alih teknologi = transfer teknologi,
  alih tugas = pindah jabatan

2. aneka
Pembentukan kata baru dengan aneka memberi makna “berbagai macam”. Penulisannya dipisahkan dari kata berikutnya.
aneka ria = berbagai kegembiraan
aneka warna
= bermacam-macam warna
aneka pertunjukan = berbagai pertunjukan
aneka ragam
= berbagai jenis

3. antar
Pembentukan kata baru dengan kata antar memberi makna “di antara lebih dari dua hal”. Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
antarbangsa = antara beberapa bangsa
antarpulau
= antara pulau
antarkota = antara kota yang satu dengan yang lain
antarras
= antara ras yang satu dengan yang lain

4. anti
Pembentukan kata baru dengan kata anti memberi makna “tidak setuju”, ”lawan” atau “musuh”. Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
antibiotik = obat untuk menghambat atau menghancurkan bakteri
antipeluru = tahan tembakan dengan peluru
antihamil = pencegah kehamilan
antitank
= bersifat dapat melumpuhkan tank

5. baku
Pembentukan kata baru dengan kata baku memberi makna “saling” atau “berbalasan” (resiprokal). Penulisanya disatukan dengan kata berikutnya.
bakuhantam = saling menghantam (berkelahi)
bakutembak
= saling menembak
bakupeluk
= saling memeluk
bakucium = saling mencium

6. maha
Pembentukan kata baru dengan kata maha memberi makna “sangat” atau “besar”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
mahabintang = orang yang terkenal karena prestasinya (dalam olahraga dll) mahakarya = karya besar, karya gemilang
mahasiswa = orang yang belajar pada perguruan tinggi
mahatahu = teramat tahu
Catatan : Apabila kata itu digunakan untuk Tuhan, harus ditulis dengan huruf besar. Contoh: (Tuhan Yang) Mahatahu, Mahasuci, Mahakuasa. Namun untuk kata esa = tunggal), ditulis terpisah, yaitu (Tuhan Yang ) Maha Esa = amat tunggal.

7. salah
Pembentukan kata baru dengan kata salah memberi makna “keliru”, “tidak benar” atau “kurang tepat”. Penulisannya dipisahkan dari kata berikutnya.
salah sangka = salah mengerti
        
salah tanggap
= salah faham
salah cetak = salah tulisan dalam cetakan
  
salah pilih
= salah dalam memilih

8. serba
Pembentukan kata baru dengan kata serba memberi makna “semua”, ”seluruh”, atau “belaka”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
serbaada = segala-galanya ada
serbaguna
= dapat digunakan untuk segala hal
serbaserbi
= bermacam-macam
serbamewah = segalanya mewah

9. tata
Pembentukan kata baru dengan kata tata memberi makna “aturan”, ”susunan”, atau “cara”. Penulisannya dipisahkan dari kata berikutnya.
tata bahasa = gramatika
   tata krama = etiket, adat sopan santun
tata kerja = sistem bekerja
  tata warna = kombinasi warna

10. temu
Pembentukan kata baru dengan kata temu memberi makna “berkumpul untuk”.
Penulisannya dipisahkan dari kata berikutnya.
temu karya = lokakarya,sanggar kerja
temu muka = tatap muka, berhadapan muka
temu duga = tanya jawab antara yang memberi pekerjaan dan yang melamar pekerjaan, wawancara.
temu niaga = pertemuan antara produsen dan pengusaha untuk membicarakan niaga di antara mereka.
Pembentukan kata dengan unsur lain tersebut turut memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Namun, perlu diperhatikan cara penulisannya, yaitu ada yang dipisahkan dan ada pula yang disatukan. Sekian, dan sampai jumpa lagi pada Bagian II.

PEMBENTUKAN KATA

A. Pengantar
Sudah kita ketahui bahwa dalam bahasa Indonesia ada kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar disusun menjadi kata bentukan melalui tiga macam proses pembentukan, yaitu: (1) afiksasi atau pengimbuhan; (2) reduplikasi atau pengulangan; (3) komposisi atau pemajemukan. Kita juga sudah mengenal adanya imbuhan atau afiks yang meliputi prefiks atau awalan, sufiks atau akhiran, dan infiks atau sisipan. Infiks sebenarnya tidak begitu penting dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam pembentukkan istilah infiks-in yang berasal dari Jawa sering juga dipakai.
Menurut FPBS (1994 :19), pembentukan kata dengan menggunakan awalan dan akhiran dalam bahasa Indonesia sudah banyak dikenal oleh para mahasiswa. Namun demikian sering juga kita jumpai kata-kata yang bentuknya tidak tepat atau salah.
Perhatikan contoh pemakaian kata bercetak miring pada teks berikut!
Pergaulan hidup yang berdeferensiasi berarti pergaulan hidup terbagi atas sektor-sektor dimana tiap khusus tertuju pada pelaksanaan salah satu fungsi yang telah disebut itu.
Kata berdeferensiasi dalam kalimat tersebut digunakan secara salah. Kata yang lebh sesuai adalah berbeda-beda karena kata deferensiasi bukanlah anggota kosa kata baku bahasa Indonesia walaupun maknanya sama dengan kata berbeda-beda.
Contoh-contoh lain dapat diamati pada kalimat-kalimat di bawah ini. Perhatikan kata-kata yang bercetak miring!
1.                Usaha kami selama ini memang profitable sehingga kami dapat menghidupi karyawan secara layak.
2.                Semua ilmuwan sangat besar atensinya terhadap penemuan Andi.
3.                Supaya mudah dicetak, lempung sebaiknya diolah tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.
4.                Pengambilan data dijalankan dengan menyebarkan angket kepada semua informan yang telah ditentukan.
Kesalahan juga terjadi pada bentukan kata. Dalam hal ini bentukan kata yang digunakan dalam kalimat merupakan bentukan-bentukan kata yang tidak tepat. Perhatikan contoh berikut ini!
1.     Penulis terpaksa mengubah rumus itu dan ternyata hasil perubahan itu dapat digunakan untuk menyelesaikan analisis data.
2.     Setiap pemerian data selalu dilengkapi dengan contoh pemerian data itu dapat dipahami secara lebih konkret.
3.     Kedua kendaraan itu tabrakan di tikungan tajam dan kecelakaan tak dapat dihindari.
Jika diperhatikan konteks dan acuan kata-kata bercetak miring tersebut tampak bahwa bentukan kata-kata itu tidak tepat. Akan lebih tepat jika kata perubahan diganti dengan ubahan, kata pemerian diganti dengan perian, dan kata tabrakan diganti dengan bertabrakan. Alasannya sudah jelas. Hasil mengubah adalah ubahan, yang diperikan adalah perian, bukan pemerian, bentukan tabrakan merupakan bentukan yang tidak baku. (FPBS : 1994 :38).
B. Imbuhan dari bahasa asing
Yang perlu kita pelajari ialah adanya imbuhan yang berasal dari bahasa asing yang kadang juga dikenakan pada kata dasar bahasa Indonesia. Kata-kata asing yang diserap dalam bahasa Indonesia itu pada dasarnya kita pandang sebagai kata dasar. Namun demikian bentuk-bentuk kata asing itu bermacam-macam, sehingga memungkinkan kita untuk menganalisis bentuk-bentuk tersebut dan menemukan awalan atau akhirannya. Kita mengenal kata-kata objek, objektif, objektivitas, objektivisme, objektivisasi. Dari bentuk tersebut kita menemukan kata dasar objek, akhiran –if, itas, -isme, -isasi. Di samping kata moral atau sosial kita kenal adanya amoral, atau asosial. Di samping kata evaluasi kita mengenal devaluasi, di samping regulasi kita mengenal deregulasi, di samping harmoni kita mengenal disharmoni, di samping integrasi kita mengenal disintegrasi. Demikianlah kita mengenal adanya awalan a-, de-, dis-.
1.     Awalan
Awalan-awalan pada kata-kata serapan yang disadari adanya, juga oleh penutur yang bukan dwibahasawan, adalah sebagai berikut:
a.     a- seperti pada amoral, asosial, anonym, asimetris. Awalan ini mengandung arti ‘tidak’ atau ‘tidak ber’;
b.     anti- seperti pada antikomunis, antipemerintah, antiklimaks, antimagnet, antikarat yang artinya ‘melawan’ atau ‘bertentangan dengan’;
c.      bi- misalnya pada bilateral, biseksual, bilingual, bikonveks. Awalan ini artinya ‘dua’;
d.     de- seperti pada dehidrasi, devaluasi, dehumanisasi, deregulasi. Awalan ini artinya ‘meniadakan’ atau ‘menghilangkan’;
e.      eks- seperti pada eks-prajurit, eks-presiden, eks-karyawan, eks-partai terlarang. Awalan ini artinya ‘bekas’ yang sekarang dinyatakan dengan kata ‘mantan’.
f.       ekstra- seperti pada ekstra-universiter, ekstra-terestrial, ekstra linguistic, kadang juga dipakai pada kata-kata bahasa Indonesia sendiri. Contoh: ekstra-ketat, ekstra-hati-hati. Awalan ini artinya ‘tambah’, ‘diluar’, atau ‘sangat’;
g.     hiper- misalnya pada hipertensi, hiperseksual, hipersensitif. Awalan ini artinya ‘lebih’ atau ‘sangat’;
h.     in- misalnya pada kata inkonvensional, inaktif, intransitive. Awalan ini artinya ‘tidak’;
i.       infra- misalnya pada infrastruktur, inframerah, infrasonic. Awalan ini artinya ‘di tengah’;
j.       intra- misalnya pada intrauniversiter, intramolekuler. Awalan ini artinya ‘di dalam’;
k.     inter- misalnya interdental, internasional, interisuler, yang biasa di Indonesiakan dengan antar-;
l.       ko- misalnya pada kokulikuler, koinsidental, kopilot, kopromotor. Awalan ini artinya ‘bersama-sama’ atau ‘beserta’;
m.  kontra- misalnya pada kontrarevolusi, kontradiksi, kontrasepsi. Awalan ini artinya ‘berlawanan’ atau ‘menentang’;
n.     makro- misalnya pada makrokosmos, makroekonomi, makrolinguistik. Awalan ini artinya ‘besar’ atau ‘dalam arti luas’;
o.     mikro- seperti pada mikroorganisme, mikrokosmos, microfilm. Awalan ini artinya ‘kecil’ atau ‘renik’;
p.    multi- seperti pada multipartai, multijutawan, multikompleks, multilateral, multilingual. Awalan ini artinya ‘banyak’;
q.     neo- seperti pada neokolonialisme, neofeodalisme, neorealisme. Awalan ini artinya ‘baru’;
r.      non- seperti pada nongelar, nonminyak, nonmigas, nonberas, nonOpec. Awalan ini artinya ‘bukan’ atau ‘tidak ber-‘.
2. Akhiran
Pada kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia kita jumpai akhiran-akhiran seperti berikut:
a.     –al misalnya pada actual, structural, emosional, intelektual. Kata-kata yang berakhiran –al ini tergolong kata sifat;
b.     –asi/isasi misalnya pada afiksasi, konfirmasi, nasionalisasi, kaderisasi, komputerisasi. Akhiran tersebut menyatakan ‘proses menjadikan’ atau ‘penambahan’;
c.      –asme misalnya pada pleonasme, aktualisme, sarkasme, antusiasme. Akhiran ini menyatakan kata benda;
d.     –er seperti pada primer, sekunder, arbitrer, elementer. Akhiran ini menyatakan sifat;
e.      –et seperti pada operet, mayoret, sigaret, novelete. Akhiran ini menyatakan pengertian ‘kecil’. Jadi operet itu ‘opera kecil’, novelet itu ‘novel kecil’;
f.       –i/wi/iah misalnya pada hakiki, maknawi, asasi, asali, duniawi, gerejani, insani, harfiah, unsuriyah, wujudiyah. Akhiran-akhiran ini menyatakan sifat;
g.     –if misalnya pada aktif, transitif, obyektif, agentif, naratif. Akhiran ini menyatakan sifat;
h.     –ik 1 seperti pada linguistic, statistic, semantic, dedaktik. Akhiran ini menyatakan ‘benda’ dalam arti ‘bidang ilmu’;
-ik 2 seperti pada spesifik, unik, karakteristik, fanatic, otentik. Akhiran ini menyatakan sifat;
a.     -il seperti pada idiil, materiil, moril. Akhiran ini menyatakan sifat. Pada kata-kata lain kata-kata ini diganti dengan –al;
b.     –is 1 pada kata praktis, ekonomis, yuridis, praktis, legendaries, apatis. Akhiran ini menyatakan sifat;
-is 2 pada kata ateis, novelis, sukarnois, Marxis, prosaic, esei. Akhiran ini menyatakan orang yang mempunyai faham seperti disebut dalam kata dasar, atau orang yang ahli menulis dalam bentuk seperti yang disebut di dalam kata dasar;
a.     -isme seperti pada nasionalisme, patriotisme, Hinduisme, bapakisme. Isme artinya ‘faham’;
b.     –logi seperti pada filologi, sosiologi, etimologi, kelirumologi, -logi artinya ‘ilmu’;
c.      –ir seperti pada mariner, avonturir, banker. Akhiran ini menyatakan orang yang bekerja pada bidang atau orang yang mempunyai kegemaran ber-;
d.     –or seperti pada editor, operator, deklamator, noderator. Akhiran ini artinya orang yang bertindak sebagai orang yang mempunyai kepandaian seperti yang tersebut pada kata dasar;
e.      –ur seperti pada donator, redaktur, kondektur, debitur, direktur. Akhiran ini seperti yang di atas menyatakan agentif atau pelaku;
f.       –itas seperti pada aktualitas, objektivitas, universitas, produktivitas. Akhiran ini menyatakan benda.
C. Upaya Pengindonesiaan
Awalan dan akhiran di atas berdasarkan maknanya dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa kelompok. Ada imbuhan yang membentuk kata benda, ada imbuhan yang membentuk kata sifat. Beberapa awalan dapat digolongkan sebagai menyatakan pengertian negative, yaitu awalan a-, in-, non-, dis- dan beberapa awalan lain yang tak tercantum dalam daftar di atas seperti ab-, im-, il- dan akhiran –less, yang artinya ‘tidak, bukan, tanpa, atau tidak ber’.
Kata sifat bentuk dengan penambahan akhiran –al, er-, if-, dan –ik. Di samping itu dapat juga digunakan akhiran dari bahasa Arab –i/-wi/-iah yang tidak lagi terasa akhiran asing dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia sendiri tidak banyak afiks pembentuk kata sifat, seperti yang disebut oleh Fokker (1960:139) bahwa bahasa Indonesia miskin susunan ajektivis.
Dalam bahasa Indonesia kedudukan kata dalam satuan sintaksis yang lebih besar menentukan sifat hubungannya dengan kata lain. Kata benda kayu dapat mensifatkan kata lain seperti halnya kata sifat bagus. Seperti hanya bagus pada meja bagus, kayu, juga mensifatkan meja pada meja kayu. Dalam bahasa Indonesia kata kayu tidak mengalami perubahan bentuk, dan semata-mata posisinya dalam satuan sintaksis yang menempatkannya sebagai atribut.
Menurut kaidah bahasa Indonesia barangkali kata morfologi atau akademi tidak perlu berubah apabila berpindah posisinya, misalnya pada morfologi bahasa Indonesia dan proses morfologi, serta akademi bahasa Indonesia dan pembantu dekan bidang akademi. Urusan akademi dan urusan akademis maknanya berbeda; yang pertama menyatakan hubungan kemilikan yang kedua hubungan kesifatan. Tetapi hubungan makna itu barangkali baru timbul setelah bahasa Indonesia menyerap kata-kata asing yang berbeda bentuknya itu.
Untuk menegaskan perbedaan hubungan makna itu, untuk kata-kata dalam bahasa Indonesia sendiri digunakan konfiks ke-an, contohnya: sifat ibu dan sifat keibuan, uang negara dan kunjungan kenegaraan.
Yang sering menimbulkan keraguan ialah penggunaan akhiran –is dan –ik. Mana yang betul: akademis atau akademik, endosentris atau endosentrik? Akhiran –is diserap dari bahasa Belanda –isch, sedang –ik dari bahasa Inggris –ic atau –ical. Sementara itu akhiran –ik diserap jujga dari akhiran –ics dari bahasa Inggris yang menandai kata benda, seperti: statistic, linguistic, semantic, fonetik. Seperti yang digariskan di dalam Pedoman Pembentukan Istilah, mengingat akhiran –ik banyak digunakan untuk menandai kata benda (statistic, linguistic, semantic, logistic, dan sebagainya) untuk kata sifat hendaknya digunakan –is, kecuali pada kata-kata: simpatik, unik, alergik, spesifik, karakteristik, analgesik.
Akhiran yang berasal dari bahasa Arab, yang terasa lebih bersifat Indonesia, dapat digunakan untuk menerjemahkan kata-kata asing, misalnya penalaran mantiki (logika reasoning), antropologi ragawi (physical anthropology), makhluk surgawi (devine being), terjemahan harfiah (letteral translation) dan sebagainya.
Di samping itu, untuk menyatakan pengertian seperti yang dinyatakan oleh bentukan-bentukan dalam bahasa asing, dalaml bahasa Indonesia sendiri digali imbuhan atau kata-kata yang diharapkan dapat menjadi padanan bentukan-bentukan dalam bahasa asing (Johannes, 1982 dan 1983, dan dalam Moeliono dan Dardjowidjojo (Eds.), 1988:431). Daftar afiks, morfem, atau kata tersebut adalah sebagai berikut.
1. adi- seperti pada: adidaya (super power), adikodrati (super natural), adikarya (masterpiece), adibusana (high fashion), adimarga (boulevard);
2. alih seperti pada: alih aksara (transliteration), alih tulis (transcript), alih
teknologi (transfer of technology), alih bahasa (translate);
3. antar- seperti pada: antarbangsa (internasional), antarnusa (interinsuler),
antarbenua (intercontinental), antardepartemen (interdepartmental);
4. awa- pada: awahama (disinfect), awabau (deodorize), awahubung (disconnect),      awawarna (discolor), pengawasan (disimilasi);
5. bak- pada bakruang (space-like), bakelektron (electron-like), bakintan
(adamantine), bakagar (galantineous);
6. dur- pada: durjana (evildoer), dursila (immoral), durkarsa (malevolence,
malice), durhaka (sinful);
7. lepas pada: lepas landas (takeoff), lepas pantai (offshore);
8. lir- pada: lirkaca (glassy) liragar (galantineous) liritan (adamantine) sang lir sari ‘yang seperti bunga’;
9. maha- pada: maharaja (kaisar, raja besar), mahaguru (guru besar), mahasiswa, Maha Esa, Mahaadil, Mahakuasa, Maha Pemurah;
10. mala- pada: malagizi (malnutrition), malabentuk (malformation), malakelola
(mismanage), malapraktik (malpractice);
11. nara pada: narasumber (resource person), narapidana (convicted), narapraja
(pegawai pemerintah), nararya (nonbleman);
12. nir- pada: nirnoda (stainless), nirnyawa (inanimate), niraksara (illiterate),
nirgelar (non-degree), niranta (infinite);
13. pasca- pada: pascapanen (postharvest), pascasarjana (postgraduate), pascadoktor    (postdoctoral), pascaperang (postwar);
14. peri- pada: perijam (clookwise), periujung (endwise), perkipas (fanwise),
peridolar (dollarwise);
15. pra- pada: prasejarah (prehistory), prakira (forecast), pratinjau (preview),
prakata (foreword, preface);
16. pramu- pada: pramugari (stewardes), pramuwisata (tourist guide), pramuria (hostess), pramusiwi (babysitter);
17. purna- pada: purnawaktu (fulltime), purnakarya (pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik), purnakaryawan (pensiunan pegawai negeri), purnawirawan     (pensiunan ABRI);
18. rupa pada: rupa bola (speroid), rupa tangga (scalariform), rupa baji (cuneiform)
19. salah pada: salah cetak (misprint), salah hitung (miscalculate), salah ucap
(misspel), salah paham (misunderstanding);
20. serba- pada: serbasama (homogeneous), serbabisa (all-round), serbaguna
(multipurpose), serbaneka (multivarious), serbacuaca (all-weather);
21. su- pada: sujana (orang baik lawannya durjana), susastra (sastra yang baik, indah), suganda (bau yang harum), sukarsa (good-will), sudarma (darma yang baik);
22. swa- pada: swakarsa (kemauan sendiri), swasembada (dapat memenuhi kebutu    han sendiri), swadaya (kekuatan sendiri), swakelola (dikelola sendiri), swapraja (daerah otonom);
23. tan- pada tanlogam (non-metal), tansuku (non-syllabic), tanvokoid
(non-vokoid), tanorganik (anorganic, inorganic);
24. tak- pada: taksosial (asocial), taknormal (abnormal), taksah (illegal), takhidup (nonliving), takmurni (impure);
25. tata pada: tata bahasa, tata hokum, tata kalimat, tata nama;
26. tuna- pada: tunakarya, tunawisma, tunasusila, tunanetra;
27. sisipan –in- pada: tinambah (addent), kinurang (subtrahend), binagi (dividend), minantu (son-in-low), linambang (sign);
28. sisipan –em- pada: gemaung (echoic), gemetar (tremulous), timambah (additive), temerang (shiny).
29. awalan bilangan    eka pada: ekaprasetyaj, ekasila; dwi- pada: dwiwarna, dwipihak; tri- pada: tridarma, triratna, tritunggal; catur- pada: caturwarga; panca- pada: pancamarga, pancasila; sad- pada: sadpada; sapta- pada: saptaprasetya, saptamarga; hasta- pada: hastabrata; nawa- pada: nawaaksara; dasa- pada: dasasila;
30. akhiran –wan/-man/-wati
Akhiran –wan ditambahkan pada kata-kata benda yang berakhir dengan vokal a seperti pada gunawan, bangsawan, hartawan, negarawan, sastrawan dan sebagainya. Untuk kata-kata yang terakhir dengan vocal I atau u dulu digunakan akhiran –man seperti pada seniman, budiman, dan Hanuman. Sekarang varian –man sudah tidak produktif lagi, akhiran –wan digunakan juga untuk kata benda yang tidak berakhir dengan vokal a, contohnya rokhaniwan, bahariwan, ilmuwan. Kadang ada kecenderungan untuk menambahkan vokal a pada kata yang berakhir dengan vokal i, misalnya industriawan.
Dengan alat-alat ketatabahasaan di atas diharapkan bahwa bahasa Indonesia menjadi lebih luwes dalam menyatakan kembali berbagai konsep dalam berbagai bidang ilmu yang berasal dari Barat. Kemampuan untuk menyerap berbagai gagasan dari Barat dan mengungkapkannya kembali dalam bahasa Indonesia, diharapkan semakin meningkat. Kata-kata asing tidak kita pungut begitu saja, melainkan diusahakan agar dapat dinyatakan dengan kata-kata yang lebih bersifat Indonesia.
Kembali kepada sarana morfologi untuk menyatakan pengertian ‘negatif’ seperti yang dikemukakan pada awal subbab ini. Dari penggalian potensi yang ada pada bahasa Indonesia sendiri disarankan penggunaan awalan nir-, tan-, tak dan tuna. Dari pengamatan sekilas kelihatan bahwa penggunaan non- masih tetap lebih tinggi kekerapannya daripada awalan dalam bahasa Indonesia sendiri yang diusulkan. Awalan non- kita jumpai pada: non-gelar, non-Opec, non-beras, non-minyak, non-Jawa, non-pribumi, non-Barat, non-Islam dan sebagainya.Awalan nir- dan tan- jarang dijumpai. Sementara awalan tuna- memang agak produktif, seperti pada: tunadaksa, tunagrahita, tunaaksara.
Akhiran-akhiran –is seperti pada linguis, novelis; -ir seperti banker, mariner; -or seperti pada koruptor, senator; -ur seperti pada direktur, redaktur; menyatakan pelaku atau orang yang mempunyai pekerjaan atau keahlian dalam bidang tertentu. Begitu juga akhiran –us pada kritikus, teknikus, musikus, teoritikus, politikus, akademikus, yang jamaknya ditandai dengan akhiran –si; kritisi, teknisi, teoritisi, musisi, politisi, akademisi.
Dalam bahasa Indonesia ada awalan pe- dan pem- di samping akhiran –wan/-wati seperti yang disebutkan di atas. Beberapa kata asing memang dapat lebih diindonesiakan dengan akhiran –wan, misalnya: politikus/politisi menjadi negarawan, linguis menjadi ilmu bahasawan, grammarian menjadi tata bahasawan, librarian menjadi pustakawan.
Pembedaan tunggal-jamak seperti pada politikus dan politisi, kriterium dan criteria, datum dan data, unsur dan anasir tidak begitu diperhatikan dalam bahasa Indonesia. Memang sesudah terserap dalam bahasa Indonesia kata-kata itu tentu saja tidak perlu tunduk pada kaidah bahasa aslinya. Kalau politisi, criteria, data dan unsur yang lebih banyak dipakai boleh saja untuk menyatakan jamak kata itu diulang menjadi politisi-politisi, kriteria-kriteria, data-data atau unsur-unsur. Begitu juga kalau dalam suatu upacara penguburan seorang yang memberikan sambutan mengajak para hadirin berdoa agar arwah almarhumah diberi tempat yang layak di sisi Tuhan.
Awalan peng- tidak dapat bersaing dengan awalan-awalan tersebut di atas, juga dengan akhiran –wan/-wati. Kata benda berawalan peng- diturunkan dari kata kerja; menjahit – penjahit, mengarang – pengarang, melempar – pelempar. Bentuk pirsawan yang diturunkan dari pirsa ‘melihat’ dipandang tidak tepat dan diganti dengan pemirsa. Awalan peng- diturunkan dari kata kerja berawalan meng-, sedang variannya yang tidak mengandung sengauan diturunkan dari kata kerja berawalan ber. Adanya bentuk-bentuk pecatur, pegolf, pebowling, pejudo, pesilat, petenis, barangkali diturunkan dari bermain catur, golf, tenes, dan sebagainya.
Akhiran –asi atau –isasi sangat produktif, sampai-sampai kata-kata dalam bahasa Indonesia sendiri ada yang mendapat akhiran tersebut. Contohnya: turinisasi, lamtoronisasi, komporisasi, pompanisasi, randuisasi. Kata-kata bentukan dengan akhiran semacam ini sebenarnya dapat dinyatakan dengan konfiks peng – an misalnya penasionalan untuk nasionalisasi, pembaratan untuk westernisasi, pengintensifan untuk intensifikasi, pengonkretan untuk konkretisasi, pembabakan untuk periodisasi. Namun bentukan dengan –sasi atau –isasi tetap produktif dan banyak digunakan dalam bidang ilmu.
Hal yang sama berlaku untuk beberapa bentukan dengan akhiran –itas dengan konfiks ke–an seperti: objektivitas dengan keobjektifan, aktualitas dengan keaktualan, sportivitas dengan kesportifan, agresivitas dengan keagresifan, elastisitas dengan keelastisan, kompleksitas dengan kekompleksan.
Kata mantan, meskipun cakupan maknanya tidak seluas –eks, dalam beberapa pemakaian dapat menggantikan kata tersebut. Semacam awalan bak- dan lir- mempunyai arti yang sama dan rupanya sengaja ditawarkan mana yang dipilih diantara dua bentuk itu. Awalan dur- dan lawannya su- juga belum diterima dan dipergunakan oleh para penutur. Mengenai pasca- dan purna- kedua awalan itu kadang dikacaukan. Ada pelayanan pascajual dan pelayanan purnajual. Yang betul ialah pascajual. Pasca- adalah lawannya pra-, purna- tidak hanya menyatakan pengertian ‘selesai’ atau ‘sesudah’, melainkan juga ‘penuh; baik, atau berhasil’. Purnakaryawan ialah karyawan yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik sampai pensiun.
D. Pembentukan Lebih Lanjut
Yang dimaksud pembentukan lebih lanjut ialah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Kata-kata serapan, sebagai warga kosakata bahasa Indonesia, juga dapat mengalami proses pembentukan sebagaimana warga kosakata yang lain. Proses pembentukan itu ada tiga macam, yaitu pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Dalam kaitannya dengan unsur serapan, pembicaraan hanya menyangkut pengimbuhan, karena dalam pengulangan dan pemajemukan tidak ada yang perlu dibicarakan.
Pembicaraan mengenai pembentukan lebih lanjut sebenarnya sudah dimulai ketika dibicarakan konfiks peng–an dan ke-an dengan unsure serapan sebagai kata dasarnya. Begitu juga waktu dibicarakan pengulangan kata ‘data’ ‘ politisi’, dan ‘arwah’. Dalam kaitannya dengan penambahan awalan meng-, peng- dan peng–an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu diperlakukan sama atau berbeda dengan kata-kata yang lebih asli. Juga mengingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali dengan gugus konsonan.
Kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara /p/,/t/,/k/, dan geseran apiko-alveolar /s/ jika mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut hilang atau luluh, contohnya: pukul menjadi memukul dan pemukul, tolong menjadi menolong dan penolong, karang menjadi mengarang dan pengarang, susun menjadi menyusun dan penyusun. Perlu dipertanyakan apakah hal yang sama juga dialami oleh kata-kata serapan, dan bagaimana jika fonem-fonem awal tersebut membentuk satu gugus dengan fonem-fonem yang lain.
Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara /p/ contohnya: paket, parker, potret, piket. Jika mendapat awalan meng- dan peng- atau peng – an, kata-kata tersebut menjadi memaketkan, memarkir, memotret, dan memiketi; pemaketan, pemarkiran, pemotretan, pemiketan. Jadi kata-kata serapan tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang lain.
Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko – dental tak bersuara /t/ contohnya: target, teror, terjemah, telpon. Apabila dibentuk dengan awalan meng- menjadi menargetkan atau mentargetkan; meneror atau menteror, menerjemahkan, dan menelpon. Jika dibentuk dengan peng – an menjadi; penargetan atau pentargetan, peneroran atau penteroran, penerjemahan, dan penelponan. Bentukan menargetkan dan penargetan, meneror dan peneroran agaknya masih belum berterima. Soal keberterimaan itu rupanya ditentukan oleh tingkat keasingan (atau keindonesiaan) kata serapan tersebut. Kata ‘tekel’ (dari tackle) tidak berterima jika dibentuk menjadi menekel dan penekelan, yang berterima ialah men-tekel dan pen-tekel-an.
Agar dapat dibentuk sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku, kata asing yang kemudian menjadi kata dasar itu harus sudah dikenal dengan baik. Kata yang belum begitu dikenal apabila mengalami proses morfofonemis menyebabkan orang sulit mengenal kata dasar dari suatu bentukan. Oleh karena itu, untuk kata-kata yang belum dikenal, bukan saja konsonan awalnya tidak mengalami peluluhan, melainkan juga diberi tanda hubung untuk mempertegas batas antara kata dasar dengan unsur-unsur pembentukannya, seperti contoh di atas yaitu men-tekel dan pen-tekel-an.
Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan system fonologi bahasa Indonesia menjadi /p/. Yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami penghilangan atau luluh, sedang apabila tetap /f/ mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /m/. Contohnya: pikir menjadi memikirkan dan pemikiran; fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnahan.
Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ yang mengalami kata-kata katrol, kontak, konsep, dan keker luluh apabila mendapat awalan meng- atau konfiks peng-an seperti terlihat pada: mengatrol dan pengatrolan, mengontak dan pengontakan, mengonsep dan pengonsepan, mengeker dan pengekeran.
Kata-kata serapan yang diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ ada yang mengalami peluluhan ada yang tidak. Kata-kata tersebut contohnya: sample, setor, sekrup, setop. Jika mendapat awalan meng- dan peng-an kata-kata tersebut menjadi menyampel dan penyampelan, menyetor dan penyetoran, menyekrup dan penyekrupan, menyetop dan penyetopan.
Seperti halnya pada unsur serapan yang lain, kata-kata yang masih terasa asing mendapat perlakuan yang berbeda, contohnya pada kata “sinkrun” dan “sistematis”, jika mendapat awalan meng- dan peng-an menjadi mensinkrunkan dan pensinkrunan, mensistematiskan dan pensistematisan.
Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ seperti pada protes, program, produksi, dan praktik, jika mendapat awalan meng- /p/ tidak luluh menjadi: memprotes, memprogram, memproduksi, dan mempraktikkan. Tetapi apabila mendapat konfiks peng-an /p/-nya luluh menjadi: pemrotesan, pemrograman, pemroduksian, dan pemraktikan. Ini bukan perlakuan yang istimewa untuk unsur-unsur serapkan sebab hal yang demikian itu kita lihat juga pada bentukan memperkirakan, memprihatinkan.
Bagaimana dengan kata serapan yang diawali gugus konsonan /tr/, /kr/, dan /st/? kata-kata serapan yang diawali dengan gugus /kr/ contohnya: kritik, kristal, kredit, kreatif konsonan /k/-nya tidak hilang bila mendapat awalan meng- menjadi: mengkritik, mengkristal, mengkristal dan mengkreatifkan. Tetapi /k/ itu lebur apabila mendapat awalan peng- atau peng-an menjadi: pengritikan dan pengritik, pengristalan dan pengreditan dan pengredit.
Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/, konsonan yang awalnya tidak pernah mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng-, maupun konfiks peng-an, contohnya: mentraktir, pentraktir, menstabilkan, penstabil, penstabilan; menskalakan, penskala, penskalaan; mensponsori, pensponsor, pensponsoran; memplester, pemplester, pemplesteran; mengkliping, pengkliping, pengklipingan.
Kata-kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan yang terjadi atas tiga fonem dan fonem yang pertama berupa hambatan atau geseran tak bersuara, kalau ada, sudah tentu konsonan pertamanya tidak pernah lebur apabila mendapat awalan meng- atau peng-.
Kata-kata serapan itu tentu saja juga dapat mengalami proses pengulangan seperti pada: traktor-traktor, computer-komputer dan sebagainya. Kata-kata serapan tidak dapat mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipurwa atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh, contohnya: mempraktis-praktisan, mengkritik-kritik, menstabil-stabilkan.

E. Perhubungan antarmakna

Kata-kata biasanya mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainya.  Dalam hal ini para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu ke dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, polisemi, hiponimi, antonimi dan sebagainya. Berikut akan dijelaskan beberapa kategori yang penting dalam pembahasan semantik.
a. Sinonimi
Dua buah kata yang mempunyai kemiripan makna diantaranya disebut dua kata yang sinonim. Kata perempuan yang mempunyai komponen makna manusia dewasa berkelamin perempuan adalah sinonim dengan kata wanita. Keduanya mempunyai komponen makna yang sama. Sekalipun kata perempuan dan wanita sulit dibedakan artinya namun di dalamnya ternyata ada unsur emotif yang membedakannya. Kata perempuan merupakan kata yang metral, dan wanita terasa ada implikasi penghargaan pengucapannya.
b. Hiponimi
Dekat  dengan perhubungan yang disebut sinonimi adalah perhubungan yang disebut hiponimi. Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis. Bila sebuah kata memiliki semua komponen makna kata lainnya, tetapi tidak sebaliknya, maka perhubungan itu disebut hiponimi. Kata warna meliputi semua warna lain. Jadi merah, hitam, hijau adalah hiponim dari kata warna. Hiponimi kemudian menjadi dasar pendekatan yang disebut dengan semantic field atau semantic domain, yaitu pendekatan semantik yang mecoba melakukan klasifikasi makna berdasarkan persamaan arti atau bidang makna yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok
c. Homonimi dan Polisemi
Bila terdapat dua buah makna atau lebih yang dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama, maka perhubungan makna dan bentuk itu disebut homonimi (sama nama atau juga yang sering disebut homofini (sama bunyi). Kata seperti pukul dapat menyiratkan makna (1) jam seperti terdapat dalam pukul tiga, dan dapat menyiratkan makna (2) kegiatan memukul. Kata yang mempunyai banyak makna disebut polisemi. Kata bisa (1) dan bisa (2) mengandung makna yang sama sekali berbeda, oleh sebab itu dianggap dua kata yang dua kata yang kebetulan bunyi sama atau sama nama. Tetapi kata pukul mempunyai dua makna yang saling berhubungan, dan oleh karena itu disebut kata yang mempunyai banyak makna.
d. Antonimi
Perhubungan makna yang terdapat antara sinonimi, polisemi, homonimi, hiponimi, atau polisemi, bertalian dengan kesamaan-kesamaan, antonimi, sebaliknya, dipakai untuk menyebut makna yang berlawanan. Bentuk-bentuk seperti laki-laki dan hidup,  masing-masing berantonim dengan perempuan dan mati . Dan kata-kata yang berlawanan makna itu disebut mempunyai perhubungan yang bersifat antonimi.

Pembentukan judul artikel

Alasan

  • Judul yang singkat memungkinkan hasil yang lebih variatif oleh mesin pencari.
  • Tidak semua orang mau atau bisa mengikuti pola pembentukan kata yang baku di dalam Bahasa Indonesia.
  • Mempermudah pengembangan lebih lanjut atas judul-judul serupa, yang kemudian digabungkan dalam daftar disambuguasi.
  • Seandainya terjadi bentrokan judul, bisa mengikuti prioritas judul.

Prioritas judul

Judul tersingkat diprioritaskan daripada kata-kata turunannya. Namun bila suatu saat diskusi tentang hal ini menemui kebuntuan, maka prioritas penamaan artikel paling singkat mengikuti alur berikut:
1.     Istilah yang lebih dikenal masyarakat umum mendapat prioritas utama. Misalnya lensa (kaca cembung) mendapat prioritas utama atas judul lensa dibanding lensa (fotografi).
2.     Jika kedua istilah sama umumnya, maka istilah yang sulit diberi tambahan kata didahulukan, misalnya paku (alat pertukangan) didahulukan untuk nama paku daripada paku (tanaman). Sebab paku (tanaman) bisa ditambahkan menjadi tanaman paku.
3.     Jika masih sama, maka istilah yang lebih mendekati bahasan ilmiah mendapat prioritas utama. Misal bayam (tanaman) mendapat prioritas atas nama bayam dibanding bayam (sayur).
4.     Penamaan terhadap sesuatu seperti tokoh, grup, anggota, kota, daerah, atau sejenisnya mendapat prioritas paling akhir dibanding yang lain misal, padi (tanaman) lebih berhak atas judul artikel padi daripada Grup Band Padi. Semanggi (tanaman) lebih didahulukan atas nama Semanggi daripada Semanggi (jembatan).

Penamaan spesies tertentu

Untuk pengguna yang memiliki minat di bidang biologi, alam, flora, dan fauna, perlu diperhatikan hal berikut:
1.     Spesies yang belum memiliki nama lokal/trivial/umum disarankan memakai nama ilmiah. Jika nama umum (dalam bahasa Indonesia) sudah ditemukan atau diberikan, isi artikel dipindah dengan kepala artikel yg baru.
2.     Beberapa nama umum, seperti kacang, bawang, dan lainnya dapat mengacu kepada takson di atas spesies maupun mencakup sebagian takson yang lain. Dalam keadaan demikian, isi artikelnya harus menerangkan hal ini. Sementara itu, artikel per spesies sendiri tetap dibuat tersendiri.

Pengecualian

1.     Penamaan terhadap seseorang tidak mengikuti kebijakan ini. Misalnya untuk hal jabatan, pangkat, ataupun gelar. Hal ini berarti nama sebisa mungkin mengikuti akta kelahiran tanpa embel-embel apapun. Artikel biografi harus memiliki judul yang menggambarkan nama lengkap seseorang, tanpa disingkat, dipotong, atau pun diberi tambahan apa pun. Tetapi jika ditemukan bentrokan judul dengan artikel lain, maka judul tersebut cukup diberi tambahan kata "(tokoh)" di belakangnya.
2.     Halaman disambiguasi diberi tambahan "(disambiguasi)" di belakang judulnya. Tetapi jika seluruh istilah yang didisambiguasi dinilai sama penting dan sama-sama sering digunakan, maka halaman disambiguasilah yang berhak atas judul paling singkat.
11. eks
Pembentukan kata baru dengan kata eks memberi makna “bekas” atau “mantan”. Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
ekspacar = mantan pacar ekspegawai = bekas/mantan pegawai
ekspetinju = mantan petinju eksnarapidana = bekas narapidana
12. ekstra
Pembentukan kata baru dengan kata ekstra memberi makna “di luar”. Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
ekstrakurikuler = (kegiatan yang) berada di luar program yang tertulis dalam kurikulum
ekstramarital = (hubungan seks) di luar nikah
ekstraparlementer = di luar parlemen
13. intra
Pembentukan kata baru dengan kata intra bermakna “di dalam”, “bagian dalam” Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
intrakalimat = ada di dalam kalimat
intraorganisasai = dalam organisasi
intrauniversiter = (kegiatan) dalam perguruan tinggi
14. super
Pembentukan kata baru dengan kata super bermakna “sangat”, “lebih tinggi” atau “di atas”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
supersibuk = sangat sibuk
 superstar = mahabintang
supernatural = adikodrati;alam gaib
  supercepat = luar biasa cepat
15. semi
Pembentukan kata baru dengan kata semi bermakna “setengah” atau “sebagian”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
semifinal = menjelang final
semiresmi = sebagian resmi
semipermanen = dibuat untuk jangka panjang, tetapi tidak permanen
16. adi
Pembentukan kata baru dengan kata adi bermakna “unggul”, “besar”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
adikarya = karya agung
  aditokoh = tokoh utama
adimarga = bulevar
   adidaya = adikuasa
17. nara
Pembentukan kata baru dengan kata nara bermakna “orang”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
narapidana = terhukum narasumber = informan
18. swa
Pembentukan kata baru dengan kata swa bermakna “sendiri”. Penulisannya disatukan dengan kata berikutnya.
swakelola = pengelolaan sendiri
swalayan = pelayanan sendiri
swasembada = usaha mencukupi kebutuhan sendiri
swakarya = hasil karya sendiri
19. pasca
Pembentukan kata baru dengan kata pasca bermakna “sesudah”. Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
pascapanen = masa sesudah panen
pascaoperasi = sesudah menjalani operasi
pascasarjana = tingkat pendidikan sesudah sarjana
pascareformasi = keadaan sesudah reformasi
20. purna
Pembentukan kata baru dengan kata purna bermakna “selesai”. Penulisannya tidak dipisahkan dari kata berikutnya.
purnabakti = pensiun
purnawirawan = pensiunan tentara atau polisi
purnajual = pelayanan penjualan lebih lanjut setelah transaksi (pascajual)
purnatugas = keadaan setelah berakhir masa tugas
Kata-kata bilangan bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Sankrit merupakan unsur terikat, yaitu penulisannya diserangkaikan dengan kata berikutnya.
eka = satu; tunggal
ekakarsa = satu kehendak; satu niat
ekamatra = satu dimensi
dwi = dua
dwibahasa = bilingual
dwifungsi = fungsi ganda
dwiganda = rangkap; dobel
tri = tiga
triwulan = tiga bulan; satu kuartal
tripartit = tiga pihak
tripod = kaki tiga (kamera)
catur = empat
caturwulan = empat bulan
caturwarga = empat warga
caturtunggal = empat unsur yang menjadi satu
panca = lima
pancaindra = lima jenis alat perasa
pancasila = lima asas negara Republik Indonesia
pancawarsa = peringatan lima tahun
sapta = tujuh
saptadarma = tujuh kewajiban
saptapesona = tujuh jenis usaha pemerintah yang meliputi tertib, bersih, sejuk, indah, ramah-tamah, dan kenangan untuk menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia
dasa = sepuluh
dasawarsa = peringatan sepuluh tahun
dasasila = sepuluh ketentuan dasar
dasalomba = perlombaan pada cabang olahraga atletik yang terdiri atas sepuluh nomor
***

Struktur Hirarkis Kata-Kata dan Proses Pembentukan Kata dalam Bahasa

Latar Belakang
Morfologi merupakan kajian ilmu yang mempelajari tentang kata dan pembentukan kata. Morfologi dalam bahasa Indonesia membicarakan tentang morfen dan kata. Sebuah kata dapat membentuk kata yang lain, ada yang disebut dengan afiksasi, komposisi, reduplikasi, suplesi, dan modifikasi internal.
Tidak semua proses morfologis terjadi dalam sebuah bahasa. Misalnya dalam bahasa Indonesia tidak terjadi modifikasi internal. Tetapi, dalam bahasa Inggris modifikasi internal terjadi dalam beberapa kasus. Begitu juga dalam bahasa Inggris tidak memiliki infiks, sedangkan dalam bahasa Indonesia dikenal beberapa infiks. Begitu juga suplesi, yang digunakan dalam bahasa Arab klasik.
Proses morfologis yang terjadi terkadang juga dapat menyebabkan perubahan kelas kata. Hal ini disebabkan oleh bergesernya makna kata tersebut yang disebabkan oleh proses morfologis tersebut.
Perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam satu bahasa dengan bahasa lain merupakan satu bentuk bahwa bahasa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Hal ini dapat dilihat dari pembentukan kata yang terjadi dalam setiap bahasa tersebut. Sebuah hal menarik ketika kita mengkaji dan menganalisis serta menemukan perbandingan-perbandingan yang dapat dijadikan acuan untuk membentuk kata baru.
Rumusan Masalah
Sebuah kata atau morfem dalam pembentukannya akan disusun secara bertahap. Hal ini disebabkan kata-kata tersebut mengalami sebuah struktur yang disebut struktur hirarkis kata-kata. Struktur hirarkis kata-kata ini nantinya akan mempengaruhi proses morfologis suatu bahasa. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara satu bahasa dengan bahasa yang lain.
Merujuk pada perbedaan proses morfologis yang terjadi pada sebuah bahasa, maka materi yang disajikan dalam makalah ini adalah bagaimana struktur hirarkis kata-kata itu terjadi dan proses-proses morfologis yang terjadi mencakup komposisi, afiksasi, reduplikasi, perubahan internal morfem dan suplesi.
Struktur Hirarkis Kata-Kata
Ada dua fakta penting tentang cara bagaimana imbuhan melekat dengan ungkapan mereka sendiri. Pertama, ungkapan yang diberi imbuhan yang secara normal dapat  berkombinasi pada jenis kata yang sama. Sebagai contoh, akhiran –able dibubuhkan secara leluasa pada verba, tetapi tidak pada adjektiva atau nomina. Dengan begitu, kita bisa menambahkan akhiran ini pada verba adjust, break, compare dan debate. Tetapi tidak pada adjektiva asleep, lovely, happy dan strong atau pada nomina seperti anger, morning, student dan success. Kedua, ungkapan-ungkapan yang dihasilkan dari penambahan imbuhan pada beberapa kata atau morfem secara normal juga merupakan jenis kata yang sama. Misalnya, ungkapan yang diakibatkan oleh tambahan –able pada verba adalah selalu adjektiva. Dengan demikian kata adjustable, breakable, comparable, dan debatable semuanya adalah  adjektiva. Satu kesimpulan penting dari dua fakta di atas adalah bahwa dalam pembentukan kata, imbuhan-imbuhan itu tidak terjadi bersama-sama tetapi disusun secara bertahap. Itulah yang disebut struktur hirarkis kata-kata.
Sebagai bahan pertimbangan adalah adjektiva reusable. Adjektiva ini terdiri dari tiga morfem. Yaitu morfem bebas use, dan imbuhan derivasional prefiks re- dan sufiks –able. Seperti yang diterangkan di atas, sufiks –able adalah pembentuk adjektiva dari verba.
Contoh:
(I)                Verb                      +          -able =          Adjective
adjust                                                               adjustable
break                                                               breakable
compare                                                          comparable
debate                                                              debatable
lock                                                                  lockable
use                                                                   usable
Lain halnya dengan prefiks re- yang berfungsi membentuk verba baru dari verba yang sudah ada.
Contoh:
(II) Re- +          Verb                =          Verb
adjust                           readjust
appear                         reappear
consider                       reconsider
construct                      reconstruct
decorate                      redecorate
use                               reuse
Dari contoh di atas ada dua tahap yang terjadi, yaitu:
1.     prefiks re- bergabung dengan verba use untuk membentuk verba reuse seperti dalam (II).
2.     sufiks –able diimbuhkan pada verba reuse untuk membentuk adjektiva reusable, yang juga diimbuhkan pada verda adjust untuk  membentuk kata sifat adjustable seperti dalam (I).
Lebih jelasnya, proses pembentukan ini dapat dijelaskan dalam pohon struktur di bawah ini:
adjective








verb                 -able
re- verb
use
Pembentukan reusable tidak bisa dianggap sebagai hasil menambahkan prefiks re- pada kata usable. Hal ini disebabkan oleh adanya pertimbangan karena use adalah verba yang bisa diimbuhkan pada bentuk adjektiva usable, seperti dalam (I). Selain itu, karena usable adalah adjektiva, maka re- tidak bisa bergabung dengannya karena re- hanya bisa bergabung dengan verba. Dengan begitu, dapat ditarik kesimpulan bahwa affiks re- dan –able bisa dikombinasikan dengan morfem berbeda pada verba reuse, tetapi tidak pada adjektiva  usable yang membentuk adjektiva  reusable.
Beberapa kata dapat mengalami ambigu (mempunyai arti lebih dari satu). Hal ini bisa disebabkan oleh struktur internal mereka yang mungkin dianalisis lebih dari satu cara. Contohnya adalah kata unlockable. Kata ini memiliki pengertian ‘tidak bisa dikunci’ atau ‘bisa tidak dikunci’. Jika kita memperhatikan seksama morfem terikat ini, maka kita akan mampu melihat kejelasan mengapa ambiguitas ini muncul.
Dalam bahasa Inggris, prefiks un- berfungsi membentuk dua kelas kata, yaitu:
1.     kombinasi adjektiva yang membentuk adjektiva baru yang berarti ‘tidak’. Contoh:
(III) un-1 +          Adjective        =          Adjective
able                             unable ‘not able’
aware                          unaware ‘not aware’
happy                          unhappy ‘not happy’
intelligent                     unintelligent ‘not intelligent’
lucky                            unlucky ‘not lucky’
1.     kombinasi verba yang membentuk verba baru yang berarti ‘melakukan kembali pekerjaan yang sebelumnya’
(IV) un-2 +          Verb                =          Verb
do                                undo ‘to do the reverse of doing’
dress                            undress ‘to do the reverse of dressing’
load                             unload ‘to do the reverse of loading’
lock                              unlock ‘to do the reverse of locking’
tie                                untie ‘to do the reverse of tying’
Merujuk pada dua kombinasi di atas, maka unlockable dapat dianalisis dengan dua cara, yaitu:
1.     sufiks –able bergabung dengan verba lock untuk membentuk adjektiva lockable seperti dalam (I). Di sini, prefiks un- bisa dikombinasikan dengan adjektiva lockable untuk membentuk adjektiva baru yaitu unlockable. Proses ini juga dapat dijelaskan dengan struktur pohon, yaitu:
Adjective








Un-1 adjective
Verb                  -able
lock
Seperti yang telah dijelaskan di atas, un-1 berarti ‘tidak’ dan struktur pohon ini menjelaskan arti unlockable adalah ‘tidak bisa dikunci’.
1.     prefiks un- bergabung dengan verba lock untuk membentuk verba unlock seperti dalam (IV). Kemudian suffiks –able bergabung dengan verba unlock untuk membentuk adjektiva unlockable. Proses ini dapat dijelaskan dengan struktur pohon sebagai berikut:
Adjective








Verb                -able
un-2 verb



lock
Makna yang terkandung dalam kata ini adalah merujuk pada un-2 yang berarti ‘melakukan kembali pekerjaan yang sebelumnya’ yang diinterpretasikan pada locking. Sehingga arti kata unlockable pada proses ini adalah ‘bisa tidak dikunci’.
Proses Pembentukan Kata Dalam Bahasa
Komposisi
Komposisi adalah kombinasi yang dibentuk dari dua kata yang berbeda. Bagian dari kombinasi ini bisa berupa morfem bebas, kata dasar, atau gabungan lainnya, seperti:
girlfriend                     air conditioner             lifeguard chair
blackbird                     looking glass               aircraft carrier
lifeguard                      working girl
aircraft                         watchmaker
textbook                      self-determination
Kita dapat mengatakan bahwa pemajemukan membentuk kata-kata dan  bukan hanya frasa-frasa sintaksis yang disebabkan oleh perbedaan di antara tekanan pola dalam kata-kata dan frasa. Pemajemukan yang memiliki kata-kata dalam golongan yang sama sebagai frasa mempunyai tekanan utama hanya pada kata pertama, sedangkan kata-kata perseorangan dalam frasa mempunyai penekanan utama sendiri-sendiri. Contoh: (tekanan utama dilambangkan dengan ´)
Kata majemuk             frasa
bláckbird                    bláck bírd
mákeup                        máke úp
Kata-kata majemuk lain bisa juga untuk menekankan pola, tetapi hanya jika mereka tidak mampu menjadi frasa. Pola ini juga hanya menekankan pada kata pertama saja seperti kata majemuk lainnya. Perbedaan-perbedaan ini sering terjadi, tetapi tidak selalu. Hal ini sering direfleksikan dalam penulisan umum seperti menulis sebuah kata majemuk sebagai satu kata atau menggunakan tanda-tanda penghubung untuk menyambung kata-katanya. Contoh:
eásy-góing                   eásy-going
mán-máde                   mán-made
hómemáde                   homemade
Sintaksis suatu kata yang diciptakan oleh pemajemukan bergantung pada tingkat tertentu dalam kategori-kategori bagiannya. Secara umum, dua kata yang kategorinya identik akan membuat sebuah kata majemuk yang juga berkategori sama. Begitu juga bagian kedua dari kata majemuk akan kelihatan mendominasi ketika kategori bagian-bagian itu berbeda. Contoh:
Nomina                       Adjektiva
birdcage                      deaf-mute
houseboat                    easy-going
playground                  highborn
X-nomina                    X-adjektiva                  X-verba
blackbird                     stone-deaf                   outrun
backwater                    colorblind                    spoonfeed
knee-deep                    undergo
downcast
Pengertian kata majemuk bergantung pada pengertian bagian-bagiannya. Namun, hampir semua pengertian dari tiap kata-kata majemuk itu dilibatkan tiap bagiannya. Misalnya, pengertian kata aircraft adalah sebuah alat yang dibuat untuk digunakan di udara. Sedangkan airconditioner adalah sebuah alat yang dibuat dengan memanfaatkan udara.
Afiksasi
Pada dasarnya, ada tiga afiks, yaitu:
1)      prefiks, yaitu imbuhan yang diletakkan di awal morfem bebas atau prefiks lainnya. misalnya re-, anti- dan  dis-.
2)      sufiks, yaitu imbuhan yang ditambahkan pada akhir morfem bebas atau prefiks lainnya. Misalnya –ment, -ly, -ed, -‘s, dan  -s.
3)      infiks, yaitu imbuhan yang disisipkan diantara morfem. Bahasa inggris tidak memiliki infiks.
Bahasa Tagalog yang merupakan bahasa nasional  negara Pilipina, memiliki infiks-infiks yang sangat ekstensif. Misalnya infiks –um- digunakan untuk banyak kata kerja. Contoh:
[sulat]              ‘write’             [sumulat]         ‘to write’
[bili]                 ‘buy’                [bumili]            ‘to buy’
[kuha]              ‘take, get’        [kumuha]         ‘to take, to
get’
Selain itu, bahasa Tagalog juga memiliki infiks –in- yang digunakan untuk kelas verba pasif. Banyak bahasa lainnya di Pilipina memiliki infiks –ar- yang digunakan untuk nama tumbuh-tumbuhan atau pohon-pohon.
Dalam bahasa Indonesia, afiksasi membentuk verba, adjektiva, nomina, adverbia, numeralia dan interogativa. Selain itu, bahasa Indonesia kaya dengan jenis afiks. Bahasa Indonesia tidak hanya memiliki prefiks, infiks dan sufiks. Tetapi juga memiliki konfiks dan simulfiks, yaitu gabungan afiks yang terdiri dari dua unsur afiks yang diletakkan di depan dan di belakang sebuah kata. Contoh:
Prefiks             infiks               sufiks               konfiks dan simulfiks
menulis            kinerja             bagian              keadaan
penulis             gerigi               makanan          persahabatan
berlari              seruling            tiduri               pengiriman
Reduplikasi
Di dalam reduplikasi, semua morfem digandakan (pengulangan total) atau hanya sebagian morfem ( pengulangan parsial). Dalam bahasa Inggris, reduplikasi total hanya terjadi secara sporadis dan itu biasanya menandai intensitas.
That’s a big, big dog!              (big is drawn out)
Bahasa Indonesia menggunakan reduplikasi total untuk membentuk kata benda jamak. Contoh:
[rumah]            ‘house’                        [rumahrumah]              ‘houses’
[ibu]                 ‘mother’          [ibuibu]                        ‘mothers’
[lalat]               ‘fly’                 [lalatlalat]                    ‘flies’
Bahasa Tagalog menggunakan reduplikasi sebagian untuk menandai keadaan yang akan datang. Contoh:
[bili]                 ‘buy’                [bibili]                          ‘will buy’
[kain]               ‘eat’                 [kakain]                       ‘will eat’
[pasok]                        ‘enter’              [papasok]                     ‘will enter’
Dalam  kata sambung dengan prefiks man (yang sering mengubah inisial konsonannya mengikuti bunyi sengau), Tagalog menggunakan reduplikasi menunjukkan pelaku pekerjaan. Contoh:
[bili] / man + bi + bili /            [mamimili]       ‘a buyer’
[sulat] / man + su + sulat /       [manunulat]     ‘a writer’
[’isda] / man + ’I + isda /        [man’i’isda]     ‘a fisherman’
Dalam bahasa Indonesia, gejala reduplikasi dapat dibagi kedalam lima bagian, yaitu:
1)      dwipurwa adalah pengulangan suku pertama pada leksem dengan pelemahan vokal. Contoh: lelaki, tetamu, sesama, dan pepatah.
2)      dwilingga adalah pengulangan leksem secara utuh. Contoh: rumah-rumah, ibu-ibu dan pagi-pagi.
3)      dwilingga salin suara adalah pengulangan leksem dengan variasi fonem. Contoh: mondar-mandir, pontang-panting dan bolak-balik.
4)      dwiwasana adalah pengulangan bagian belakang dari leksem. Contoh: pertama-tama, sekali-kali dan perlahan-lahan.
5)      trilingga merupakan pengulangan onomatope dengan tiga kali variasi fonem. Contoh: cas-cis-cus dan dag-dig-dug.
Perubahan Internal Morfem
Di samping menambahkan imbuhan pada sebuah morfem (afiksasi) atau mengulang seluruh atau sebagian morfem (reduplikasi) untuk membedakan analisis proses morfologi, ada juga proses morfologis yang disebut modifikasi internal morfem. Berikut adalah beberapa contoh dalam bahasa Inggris:
1)      meskipun pola biasa dari bentuk jamak ditambahkan pada morfem infleksi, beberapa kata dalam bahasa Inggris membuat  sebuah modifikasi internal, misalnya man tetapi men, woman tetapi women, goose tetapi geese dan lain-lain.
2)      pola biasa dari past tense dan past participle adalah ditambahkannya sebuah imbuhan, tetapi beberapa verba juga menunjukkan perubahan internal, seperti:
break, broke, broken
bite, bit, bitten
ring, rang, rung
sing, sang, sung.
3)      beberapa  kelas kata hanya bisa berubah dengan menggunakan modifikasi internal, seperti:
strife, strive
teeth, teethe
breath, breathe
life, live (V)
life, live (adj).
Suplesi
Bahasa yang dibentuk oleh proses morfologis akan membentuk kata-kata yang secara normal menjadi kata yang beraturan. Pembentukan kata-kata secara produktif  tersebut menggunakan satu atau beberapa proses yang telah dijelaskan di atas. Tetapi, dalam proses-proses tersebut juga memiliki kelas kata yang tidak beraturan. Hal ini disebabkan mereka menandai persamaan analisis morfologis tersebut dengan proses lain yang berbeda. Kadang-kadang. Perbedaan itu bisa direpresentasikan dengan dua kata yang berbeda yang tidak memiliki banyak perbedaan sistematik dalam bentuknya. Situasi yang tidak beraturan ini disebut suplesi dan biasanya hanya terjadi pada beberapa kata pada sebuah bahasa.  Situasi ini muncul karena ada dua kata berbeda yang ditafsirkan memiliki arti yang sama diinterpretasikan sebagai kata yang sama.
Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris akhiran verba beraturan bentuk past tense dibentuk dengan menambahkan /-† /, /-d /, or /-əd /. Kebanyakan kata-kata dalam bahasa Inggris, begitu juga kata-kata susunan baru dalam bahasa Inggris seperti scroosh atau blat akan mempunyai format past tense ini.
walk                /wak/                           walked                        /wak†/
scroosh            /skruš/                          scrooshed        /skruš†/
blat                  /blæ†/                          blatted             /blæ†əd/
Ada juga beberapa kelas kata umum dalam bahasa Inggris bentuk past tense yang berubah huruf vokalnya, misalnya:
sing                  /sґŋ/                             sang                 /sæŋ/
run                   /r^n/                             ran                   /ræŋ/
Bebrapa kata kerja individual dalam bahasa Inggris memiliki suplesi past tense, yaitu:
I am                 /æm/                            I was               /w^z/
I go                  /go/                              I went              /wεn†/
Bahasa Arab klasik memberikan contoh lain. Bentuk jamak yang normal untuk kata benda diakhiri dengan /-a†/ dengan memperpanjang bunyi hurufnya. Contoh:
/dira:sa†/          ‘(a) study’       /dira:sa:†/         ‘studies’
/haraka†/          ‘movement’     /haraka:†/         ‘movements’
Kesimpulan
(1)   Ada dua fakta penting tentang cara imbuhan melekat dengan suatu ungkapan. Pertama, ungkapan yang diberi imbuhan yang secara normal dapat  berkombinasi pada jenis kata yang sama. Kedua, ungkapan-ungkapan yang dihasilkan dari penambahan imbuhan pada beberapa kata atau morfem secara normal juga merupakan jenis kata yang sama.
(2)   Struktur hirarkis kata-kata adalah dalam pembentukan kata, imbuhan-imbuhan itu tidak terjadi bersama-sama tetapi disusun secara bertahap.
(3)   Affiks re- dan –able bisa dikombinasikan dengan morfem berbeda pada verba reuse, tetapi tidak pada kata sifat usable yang membentuk adjektiva reusable.
(4)   Akibat struktur internal mereka yang mungkin dianalisis lebih dari satu cara membuat beberapa kata mempunyai makna yang lebih dari satu (ambigu).
(5)   Dalam bahasa Inggris, prefiks un- berfungsi membentuk dua kelas kata, yaitu: kombinasi adjektiva yang membentuk adjektiva baru yang berarti ‘tidak’ dan kombinasi verba yang membentuk verba baru yang berarti ‘melakukan kembali pekerjaan yang sebelumnya’.
(6)   Komposisi adalah kombinasi yang dibentuk dari dua kata yang berbeda. Bagian dari kombinasi ini bisa berupa morfem bebas, kata dasar, atau gabungan lainnya.
(7)   Secara umum, dua kata yang kategorinya identik akan membuat sebuah kata majemuk yang juga berkategori sama. Begitu juga bagian kedua dari kata majemuk akan kelihatan mendominasi ketika kategori bagian-bagian itu berbeda.
(8)   Pada dasarnya, ada tiga afiks, yaitu: prefiks, suffiks, dan infiks.
(9)   Dalam reduplikasi, semua morfem digandakan (pengulangan total) atau hanya sebagian morfem (pengulangan parsial). Dalam bahasa Inggris, reduplikasi total hanya terjadi secara sporadis dan itu biasanya menandai intensitas.
(10)                       Selain afiks dan reduplikasi, ada juga proses morfologi yang disebut dengan modifikasi internal morfem.
(11)                       Bahasa yang dibentuk oleh proses morfologis akan membentuk kata-kata yang secara normal menjadi kata yang beraturan. Tetapi, dalam proses-proses tersebut juga memiliki kelas kata yang tidak beraturan. Hal ini disebabkan mereka menandai persamaan analisis morfologis tersebut dengan proses lain yang berbeda.
Saran
(1)   Agar tidak menyebabkan beberapa kata mempunyai makna yang ambigu, maka seharusnya struktur internal mereka tidak dianalisis lebih dari satu cara.
(2)   Sebaiknya saat para penulis menulis sebuah kata majemuk sebagai satu kata atau menggunakan tanda-tanda penghubung untuk menyambung kata-katanya.

DAFTAR PUSTAKA
Sneddon, J.N. 1996. Indonesian Reference Grammar. Australia: Allen & Leuwin              Production.
Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar