Rabu, 11 Juli 2012

Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem


BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah sebuah proses yang sangat panjang demi menuju tercapainya tujuan pendidikan. Bukan aktivitas spontan, yang sekali terjadi. Sebagai sebuah proses, maka pendidikan pada dasarnya adalah rangkaian aktivitas terperogram, terarah, dan berkesinambungan. Dalam mata kuliah Sosiologi Pendidikan, pendidikan adalah ikhtiar (usaha) yang ‘arif, terencana, dan bekesinambungan baik secara vertikal maupun horizontal. Dengan demikian pendidikan bukanlah suatu proses yang yang asal-asalan yang tanpa perencanaan dan tanpa perorganisasian.
Pendidikan islam adalah proses pembentukan kepribadian manusia kepribadian islam yang luhur. Bahwa pendidikan islam bertujuan untuk menjadikannya selaras dengan tujuan utama manusia menurut islam, yakni beribadah kepada Allah SWT.
Diharapkan dengan pemahaman tentang dasar dan tujuan sistem pendidikan islam ini, kita semua bisa memberi motivasi agar manusia khususnya muslim selalu mencari ilmu hingga akhir hayat, dalam rangka merealisasikan tujuan yang telah disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 dapat diaplikasikan secara kontinu







BAB II
PEMBAHASAN
Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem
A.  Pendidikan Islam Secara Luas
Dalam dunia filsafat, filsafat pendidikan merupakan suatu bentuk filsafat khusus, yaitu suatu cabang dari filsafat yang sasaran pembahasannya dalam bidang pendidikan[1], dan merupakan pedoman bagi perancang dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran islam.
Dengan demikian filsafat pendidikan islam pada hakikatnya merupakan landasan dasar bagi penyusunan suatu system pendidikan islam. Pemikiran-pemikiran filsafat pendidikan islam menjadi pola dasar bagi para ahli pendidikan islam mengenai bagaimana system pendidikan yang dikehendaki  dan sesuai dengan konsep ajaran islam, yang berhubungan dengan pendidikan.
Kata sistem berasal dari bahasa Yunani, systema yang berarti cara atau strategi. Istilah sistem dari bahasa Yunani juga diartikan sebagai suatu keseluruhan yang tersusun dari banyak bagian whole compounded of several parts[2]. Dalam bahasa inggris system berarti sistem, susunan, jaringan, cara. Sistem juga diartikan sebagai suatu strategi, cara berfikir atau model berfikir. Sistem juga dikatakan sebagai kumpulan berbagai komponen yang masing- masing saling terkait, tergantung, dan saling menentukan.[3]
Pada awalnya pendekatan sistem digunakan dalam bidang teknik, tetapi pada akhir tahun 1990 dan awal 1960 an, pendekatan sistem mulai diaplikasikan dalam bidang pendidikan seperti merumuskan masalah, analisis kebutuhan, analisis masalah, desain metode, dan materi instruksional pelaksanaan secara eksperimental, menilai dan merivisi dan sebagainya.
Dengan demikian pendekatan sistem merupakan proses pemecahan masalah yang logis atau mencapai hasil pendidikan secara efektif dan efesien[4].
Hubungan antara pemikiran filsafat dengan sistem pendidikan agaknya dapat ditelusuri dari pelaksanaan pendidikan islam di zaman permulaan islam hingga ke zaman klasik. Direntang masa tersebut, diduga system pendidikan islam belum dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran filsafat asing. Alasan yang kuat, antara lain bahwa dizaman-zaman tersebut secara politis islam masih menjadi negara adikuasa. Hingga cukup beralasan kalau Rogen Bacon menyatakan “jika seseorang ingin menemukan kebenaran, maka ia seharusnya mempelajarinya dari orang-orang arab (muslim). Dan seperti diakuinya, metode empiris yang ia kembangkan, berasal dari metode pendidikan yang dikembangkan dalam system pendidikan islam. Metode ini dikenal dengan  Minhaj al- Tajribiyat al- Arabiyat, adalah sebagai metode pendidikan yang banyak dipelajari oleh para ilmuan Eropa menjelang berakhirnya zaman keemasan Bani Umayyah di Andalusia.
B.  Dasar-Dasar  Sistem Pendidikan Islam
Dasar sistem pendidikan islam identik dengan dasar ajaran islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu Al-Qur’an dan hadits. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas syar’i, ijma’ yang diakui, ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagat raya, manusia, masyarakat, dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan akhlak, dengan menunjuk kedua sumber asal (al-Qur’an dan hadits) sebagai sumber utama.
Menjadikan Al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pemikiran dalam membina system pendidikan, bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan kepada keyakinan semata. Lebih jauh kebenaran itu juga sejalan dengan kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan bukti  sejarah, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian, kebenaran itu bisa kita kembalikan pada pembuktian akan kebenaran pernyataan firman allah :
 ”Al-Qur’an tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”(Q.2:2).
Kebenaran yang dikemukakannya mengandung kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang spekulatif, lestari dan tidak bersifat tentative (sementara).
“ Sesungguhnya kami menurunkan al-Qur’an dan sesngguhnya kami tetap memeliharanya.( Q.15:9).
Kebenaran yang seperti itu pula yang dijadikan dasar pemikiran dalam Pembinaan system pendidikan islam.
Berbeda dengan kebenaran yang dibuat oleh hasil pemikiran manusia. Kebenaran nalar produk manusia, bagaimanapun terbatas oleh uang dan waktu. Selain itu hasil pemikiran tersebut mengandung muatan subyektivitas, sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Adanya kedua faktor ini mendorong hasil pemikiran para ahli pendidikan ntuk membuahkan konsep pendidikan yang sesuai dengan pandangan pandangan hidup masing-masing.
Setiap masyarakat, bagaimanapun mempunyai falsafah dan pandangan hidup yang mereka nilai sesuai asas dalam membentuk generasi yang akan datang sebagai generasi pewaris. Adanya berbagai aliran pemikiran filsafat berupa faham-faham menunjukkan bukti keragaman pandangan hidup itu. Dan dengan demikian tujuan yang akan dicapai oleh system pendidikan pada prinsipnya tak terlepas dari asas filsafat yang mereka anut.
Dasar adalah landasan tempat berpisah atau tegaknya sesuatu agar sesuatu tersebut tegak berdiri dalam suatu bangunan yaitu fondamen yang menjadi landasan bangunan tersebut agar bangunan itu tegak dan kokoh berdiri, demikian pula dasar sistem pendidikan islam yaitu fondamen yang menjadi landasan atau asas agar pendidikan islam dapat tegak berdiri agar tidak mudah roboh karena tiupan angin kencang berupa ideologi.

1.    Al-Qur’an dan Hadits Sebagai Dasar Filosofis Pelaksanaan Pendidikan Islam
a.    Al-Qur’an.
Allah berfirman yang artinya:
“Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”
Nabi SAW juga bersabda, yang artinya:
 “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridhai Allah SWT. Dan menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
Bagi umat Islam dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.
Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik.[5]
Islam adalah agama yang membawa misi agar ummatnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah berkenaan tentang masalah keimanan juga pendidikan dalam firman-Nya yang artinya:  
 “ Bacalah dengan (menyebut ) nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah dan tuhanmulah yang paling pemurah yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui. (Qs. Al-Alaq 1-5 )
Dari ayat ayat tersebut diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa seolah-olah tuhan berkata hendaklah manusia meyakini akan adanya adanya tuhan pencipta manusia. Selanjutmya untuk memperkokoh keyakinan dan memelihara agar tidak luntur hendaklah melaksanakan pendidikan dan pengajaran.
b.    As- Sunnah
Sunnah merupakan dasar sistem pendidikan islam yang kedua setelah Al-Qur’an, Banyak hal yang bersifat global atau universal dalam Al-Qur’an dijelaskan melalui sunnnah.
Salah satu hal yang harus diperhatika dalam sistem pendidikan islam ialah skap kesungguhan dari seorang pendidik. Rasulullah saw adalah juru didik dan beliau juga menjunjung tinggi terhadap pendidikan dan motivasi agar berkiprah kepada pendidikan dan pengajaran. Rosulullah saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yang menyembunyikan ilmunya maka tuhan akan mengekangnya dengan kekang berapi”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar