Rabu, 11 Juli 2012

KONVERSI AGAMA

BAB I
PENDAHULUAN
Agama merupakan salah satu aspek yang paling penting daripada aspek-aspek budaya yang dipelajari oleh para ilmuan. Agama sangat penting bukan saja yang dijumpai pada setiap masyarakat yang sudah diketahui, tetapi juga karena penting saling mempengaruhi antara lembaga budaya yang satu dan yang lain. Di dalam agama itu dijumpai ungkapan materi budaya dalam tabiat manusia serta dalam sistem nilai, moral dan etika, agama itu saling mempengaruhi dengann sistem organisasi kekeluargaan, perkawinan, ekonomi, hukum dan politik. Aagama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi, serta agama itu telah memberikan inspirasi untuk memberontak dan melakukan peperangan dan terutama telah memperindah dan memperluas karya seni.













BAB II
PEMBAHASAN
KONVERSI AGAMA
Agama merupakan alat, perantara bagi setiap penganutnya untuk menuju hal yang satu, yaitu tuhannya.[1] Melalui agama seseorang bisa menjadi orang yang baik dalam hidupnya, karena hidupnya teratur melalui agama yang dianutnya. Namun, tidak jarang orang yang berpindah keyakinan dari agama yang semula diyakininya ke agama lain.
A.  Pengertian Konversi Agama
Konversi berasal dari kata “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berubah (agama). Dalam bahasa Inggris Conversion yang berarti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain. Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.[2]
Pengertian konversi agama menurut terminologi. Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengann kepercayaan sebelumnya. [3]
Konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah SWT secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.[4]
B.  Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama
Sesungguhnya untuk menentukan faktor-faktor apa yang mempengaruhi dan menyebabkan terjadinya konversi agama memang tidak mudah, berbagai ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi, namun demikian ada beberapa faktor yang tampaknya dan terdapat dalam setiap peristiwa konversi agama, antara lain:
1.    Pertentangan Batin (konflik jiwa) dan Ketegangan Perasaan
Orang-orang yang gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan itu. Diantaranya ia merasa tidak mampu mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Ia tahu bahwa yang salah itu salah, akan tetapi ia tidak mampu menghindarkan dirinya dari berbuat salah itu, dan ia tahu mana yang benar, akan tetapi tidak mampu berbuat. Itu lah sebabnya, kadang kita mendenganr seorang penjahat besar, pencuri, perampok dan pelanggar susila memberi nasehat, seakan-akan ia yang betul-betul baik. Orang-orang itu kadang-kadang sadar bahwa dalam dirinya sedang berkecamuk aneka persoalan yang tak dapat dihadapinya.
Disamping itu sering pula terasa ketegangan batin yang memukul jiwa, merasa tidak tentram, gelisah, tertekan dan dan kadang-kadang menjadi kebingungan tidak tentu apa yang akan dilakukan. Dalam kepanikan atau kegoncangan jiwa itulah kadang-kadang orang dengan tiba-tiba terangsang melihat orang yang sembahyang, atau mendenganr uraian agama yang seolah-olah tepat menjadi penyelesai dari problema yang dihadapinya. Dalam keadaan bingug haus akan ketentraman batin terdenganr azan subuh mengalun di udara, hatinya merasa tertarik , ingin mrasa tentram, merasa di ampuni dan dirangkul oleh kasih sayang allah SWT. Demikiannya pula halnya Umar bin Khatab yang sedang diombang-ambingkan oleh konflik jiwa, karena ingin menguasai semua orang, tetapi adik perempuannya sendiri telah memilih jalan yang berlawanan dengan kemauannya, dalam puncak kegelisahan itu didengarnya ayat-ayat yang seolah-olah menegur dirinya sendiri ”Al-Qur’an bukan untuk menyusahkan, tetapi peringatan”  dan seterusnya.

2.    Pengaruh hubungan dengan tradisi
Konversi agama bisa terjadi dalam sekejap mata. Namun tidak ada peristiwa konversi agama yang tidak ada mempunyai riwayat. Diantara faktor-faktor penting dalam riwayat konversi adalah: pengalaman-pengalaman yang mempengaruhinya, sehingga terjadi konversi tersebut. Diantara pengaruh yang terpenting adalah pendidikan orang tua diwaktu kecil. Memang orang-orang yang mengalami konversi itu, acuh tak acuh, bahkan menentang agama pada hidupnya menjelang konversi itu terjadi, namun jika dipelajari riwayat hidupnya sejak kecil, akan dapatlah misalnya ibu/bapaknya orang yang kuat beragama.
Jika kita analisa, sebab pendidikan dan suasana keluarga diwaktu kecil itu berpengaruh besar terhadap diri seseorang, yang kemudian terjadi padanya konversi agama, adalah keadaan mengalami ketegangan dan konflik batin itu sangat berat mau tidak mau pengalaman waktu kecil akan teringat dan membayang-bayang secara tidak sadar dalam dirinya, dekat dengan orang tua dalam suasana yang tenang aman dan damai. Keadaan inilah yang dalam peristiwa-peristiwa tertentu menyebabkan konversi tiba-tiba terjadi.
Sebenarnya pendidikan orang tua diwaktu kecil bukan lah satu-satunya faktor yang mempengaruhi jiwa orang-orang yang gelisah dan acuh tak acuhkepada agama itu. Tetapi faktor yang tidak sedikit dalam hal ini, lembaga-lembagakeagamaan, mesji-mejid atau gereja-gereja. Aktifitas lembaga keagamaan mempunyai pengaruh besar terutama aktifitas-aktifitas sosial. Anak-anak yang pada waktu kecilnya sering pergi kemesjid, surau dan lnggar, dimana banyak pula teman-teman sebayanya yang sama-sama mendaatkan pendidikan dari lembaga-lembaga tersebut dan sama-sama mendapat pelajaran , sama-sama belajar mengaji, acara khatam Al-Qur’an,ikut didikan subuh, ikut membagikan zakat fitrah, daging korban dan sebagainya. Kebiasaan yang dialami waktu kecil melalui bimbingan lembaga-lembaga keaagamaan itu termasuk salah satu faktor penting yang menyebabkan terjadinya konversi agama jika pada umur dewasa ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik, ketegangan batin yang tidak teratasi.


3.    Ajakan/Seruan Dan Sugesti
Banyak pula terbukti bahwa diantara peristiwa konversi agama terjadi karena sugesti dan bujukan dari luar. Kendati pun sugesti dan bujukan dari luar itu pada mulanya dangkal saja, atau tidak mendalam, tidak sampai keperubahan kepribadian, namun jika orang yang mengalami konversi itu dapat merasakan kelegaan dan ketentraman batin dalam keyakinan yang baru, maka lama kelamaan akan masuklah keyakinan itu kedalam kepribadiannya.
Orang-orang yang gelisah, yang sedang mengalami kegoncangan batin akan sangat mudah menerima sugesti atau bujukan-bujukan karena orang yang sedang gelisah atau jiwanya terguncang ingin segera terlepas dari penderitaannya, baik penderitaan itu disebabkan oleh keadaan ekonomi, sosial, rumah tangga, pribadi atau moral. Bujukan atau sugesti yang membawa harapan akan terlepas dari kesengsaraan batin itu akan segera diikutinya. Memang ajakan itu tidak kekal, tetapi dapat diperkuat sedikit demi sedikit dengan pembuktian bahwa ketegangannya itu makin brkurang  dan berganti dengann ketentraman batin, dalam keyakinan yang baru. Inilah barangkali salah satu hikmah terpenting dari ajaran islam, yang memasukkan orang muallaf, dalam katagori orang-orang yang mendapat pertolongan dan perhatian, serta termasuk salah satu golongan orang yang boleh menerima zakat. 
Karena itu maka dakwah atau seruan agama yang ditunjukkan kepada orang-orang yang berdosa, acuh tak acuh pada agama atau orang yang menentang agama, yang sedang mengalami konflik dan ketegangan batin, hndaklah bersifat mendorong dan membawanya kepada ketentraman batin. Jangan sempai mereka digelisahkan, ditakut-takuti dengann dosa, neraka dan kemarahan Tuhan. Ajakan yang disertai ancaman atau menakut-nakuti tidak akan membawa kepada pertumbuhan keyakinan baru, bahkan akan menjadi pudarnya keyakinan yang telah mulai tumbuh itu. Karena kegeliahannya yang semula tidak hilang, bahkan bertambah pula dengann pemikiran tentang dosadan kemarahan Tuhan yang di jelaskan oleh juru dakwah tersebut.
Itulah sebabnya, ada sebagian pemimpin dan penganjur agama yang tidak segan-segan mendatagi orang-orang yang mulai goyah keyakinannya karena penderitaannya, mereka datang membawa nasehat, bujukan dan hadiah-hadiah yang menarik, yang akan menambah terikatnya hati orang-orang yang gelisah tadi kepadanya.
Bantuan-bantuan moral dan material serta kesempatan-kesempatan untuk mengungkapkan dosa (kesalahan yang pernah ia perbuat), diberikan dengan penuh perhatian dan kasih sayang, oleh pemuka-pemuka agama tersebut, akan membuat hati yang bingung dan gelisah tadi, tentram dan tertarik kepadanya.

4.    Faktor-Faktor Emosi
Dalam penelitian George A. Coe terhadap orang-orang yang mengalami peristiwa konversi agama lebih banyak terjadi pada orang-orang yang dikuasai oleh emosinya. Orang yang emosional lebih mudah mendorongnya untuk bertindak, biasanya mereka sangat tajam (ekstrem) apabila melihat suatu yang menyenangkan perasaannya, sesuatu itu akan dipujinya setinggi langit, tetapi sebaliknya mereka akan menghantam habis-habisan orang yang berbeda pendapat dengannnya. Orang-orang yang demikian kadang-kadang bersikeras membela kesalahan yang dibuatnya, walau ia tahu bahwa yang dibuatnya itu salah. Namun ia tidak mampu menghindarinya.
Orang yang emosional (lebih sensitive atau banyak dikuasai oleh emosinya), mudah terkena sugesti, apabila ia sedang mengalami kegelisahan. Secara lahir emosi tampaknya tidak terlalu banyak berpengaruh, namun dapat dibuktikan bahwa ia salah satu faktor yang ikut mendorong  terjadinya konversi agama.
Umur remaja, terkenal dengan masa kegoncangan emosi, maka konversi agama sering terjadi pada remaja-remaja tersebut, seperti yang telah ditemukan oleh G.Stanley Hall dalam penelitinnya terhadap mahasiswa- mahasiswa. Bahwa pada masa inilah yang paling peka dan membawa konversi agama. Kemudian Star buck mengemukakan pula bahwa umur yang menonjol bagi konversi agama pada laki-laki adalah 16 tahun 4 bulan dan pada wanita 14 tahun 8 bulan.[5]
5.    Kemauan
Kemauan juga merupakan peranan penting dalam konversi agama. Terbukti bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang ingin mengalami konversi. hal ini dapat di ikuti dari riwayat hidup Imam Al Ghazali yang mengalami sendiri bahwa pekerjaan dan buku–buku yang dulu di karangnya bukanlah dari keyakinan, tapi datang dari keinginan untuk mencari nama dan pangkat. Pada intinya konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak tanpa suatu proses.[6]

C.  Proses Konversi Agama
Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi ini bisa diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah bangunan, bangunan lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan yang baru yang bentuknya berbeda sama sekali dari bangunan sebelumnya.
Demikian juga seseorang atau sekelompok yang mengalami konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinnya  yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang di anutnya (agama), maka setelah terjadi konversi agama dalam dirinya secara spontan pula agama yang terdahulu ditinggalkan sama sekali. Segala bentuk perasaan batin terhadap kepercayaan lama seperti: harap, rasa bahagia, keselamatan, kemantapan berubah menjadi berlawanan arah. Timbulah gejala-gejala baru berupa perasaan tidak lengkap dan tidak sempurna. Gejala ini menimbulkan proses kejiwaan dalam bentuk: merenung, timbulnya tekanan batin, penyesalan diri, rasa berdosa, cemas terhadap masa depan, perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.
Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga untuk mengatasi kesulitan  tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Umumnya apabila gejala tersebut sudah dialami oleh seseorang atau sekelompok orang maka dirinya menjadi lemah dan pasrah ataupun timbul semacam peledakan perasaan untuk menghindarkan diri dari pertentangan batin itu. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya yang bersangkutan telah mampu memilih pandangan hidup yang barudalam kehidupan selanjutnya.
Sebagai hasil dari pemilihanya terhadap pandangan hidup itu maka bersedia membuktikan diri kepada tuntutan-tuntutan dari peraturan ada dalam pandangan hidup yang dipilihnya itu berupa ikut berpartisipasi secara penuh. Makin kuat keyakinannya terhadap kebenaran pandangan hidup itu akan semakin tinggi pula nilai bakti yang diberikannya. M.T.L. Penido berpendapat bahwa konversi agama mengandung dua unsur:  
1.    Unsur dari dalam diri, yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau sekelompok. Konversi yang terjadi dalam batin membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang tejadi dan keputusan yag diambil  seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang beriaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengann proses tersebut muncul pula struktur psikologis yang baru yang dipilih.
2.    Unsur dari luar , yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau sekelompok yang bersangkutan. Kekuatanyang datang dari luar ini kemudian menekan pengaruhya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan.
Kedua unsur tersebut kemudian mempengaruhi kehidupan batin untuk aktif berperan memilih penyelaian yang mampu memberikan ketenangan batin kepada yang bersangkutan. Jadi disini terlihat adanya pengaruh motivasi dari unsur tersebut terhdap batin. Jika pemilihan tersebut sudah serasi dengan kehendak batin maka akan terciptalah suatu ketenangan. Seiring dengan timbulnya ketenangan batin tersebut terjadilah semacam perubahan total dalam struktur psikologis sehingga struktur lama terhapus dan diganti dengan yang baru sebagai hasil pilihan yang dianggap baik dan benar. Sebagai pertimbangannya akan muncul motivasi baru untuk merealisasikan kebenaran itu dalam bentuk tindakan atau perbuatan yang positif.
Jika proses konversi itu diteliti dengan seksama maka baik hal itu terjadi oleh unsur luar ataupun unsur dalam, terhadap individu ataupun kelompok maka akan ditemui persamaan.
Perubahan yang terjadi terhadap pentahapan yang sama dalam bentuk kerangka  proses secara umum yang dikemukakan oleh Dr. Zakiah Drajad yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap
a.    Masa tenang
Disaat ini kondisi jiwa seseorang berada keadaan tenang karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Terjadi semacam sikap apriori terhadap agama. Keadaan yang demikian dengann sendirinya tidak akan mengganggu keseimbangan batinnya, hingga ia berada dalam keadaan tenang dan tentram.
b.    Masa ketidak tenangan
Tahap ini berlangsung jika masalah agama  telah mempengaruhi batinnya. Mungkin dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya. Hal ini menimbulkan suatu kegoncangan dalam kehidupan batinnya sehingga mengakibatkan mengakibatkan terjadi kegoncangan  yang berkecamuk dalam bentuk : rasa gelisah, panik, putus asa, ragu dan bimbang. Perasaan seperti itu menyebabkan orang menjadi lebih sensitif. Pada tahap ini terjadi terjadi proses pemilihan terhadap idea atau kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya.
c.    Masa konversi
Tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah. Keputusan ini memeberikan makna dalam menyelesaikan pertentangan batin yang terjadi, sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk Ilahi. Karena disaat ketenangan batin itu terjadi dilandaskan atas suatu perubahan sikap kepercayaan yang bertentangan dengann sikap kepercayaan yang sebelumnya, maka terjadilah proses konversi agama.
d.   Masa tenang dan tentram
Masa tenang dan tentram yang kedua ini berbeda dengann tahap sebelumnya. Jika dalam tahap pertama keadaan itu dialami karena sikap acuh tak acuh, maka ketenangan dan ketentraman dalam tahap ketiga ini ditimbulkan oleh keputusan yang sudah diambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru.

e.    Masa Ekspresi konversi   
Sebagai ungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru dari ajaran agama yang diyakninya tadi, maka tidak tunduk dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilih tersebut. Pencerminan ajaran dalam bentuk amal perbuatan yang serasi dan relevan sekaligus merupakan pernyataan konversi agama itu dalam kehidupan.[7]






















BAB III
PENUTUP
Simpulan
Konversi berasal dari kata “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berobah (agama). Dalam bahasa Inggris Conversion yang berarti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama keagama lain. Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.
Konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau prilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Konversi agama yang dimaksudkan memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
1.      Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
2.      Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan secara berproses atau secara mendadak.
3.      Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pendangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.










DAFTAR PUSTAKA

Zakiah daradjad.  Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Bulan Bintang, 2005.

Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta, Raja Grafindo, 1997.
Harold Coward. Pluralisme Tantangan Bagi Agama-Agama, Yogyakarta, Kanisius, 1989.
http://hbis.wordpress.com/2009/12/12/konversi-agama-psikologi-agama
Ramayulis. Psikologi Agama. Jakarta, Kalam Mulia, 2007.





[1] Harold Coward, Pluralisme Tantangan Bagi Agama-Agama, (Yogyakarta, Kanisius, 1989), h. 170.
[2] http://hbis.wordpress.com/2009/12/12/konversi-agama-psikologi-agama/
[3] Jalaludin,Psikologi agama, (Jakarta:Raja Grafindo, 1997), h.245-246.
[4] Zakiah daradjad, Ilmu jiwa agama, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2005) h.160.
[5] . Opcit, h. 184-190
[6]Ramayulis. Psikologi Agama. (Jakarta: Kalam Mulia, 2007), h.71.
[7] . Opcit, h. 251-255

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar